Sabtu, 22 NOVEMBER 2025 • 21:44 WIB

Tingginya Prevalensi Depresi di DKI Jakarta: Sebuah Tantangan Kesehatan Mental

Author

Tingginya Prevalensi Depresi di DKI Jakarta: Sebuah Tantangan Kesehatan Mental

Sebanyak 1,5 persen penduduk DKI Jakarta yang berusia di atas 15 tahun mengalami depresi, menyusul angka nasional yang lebih rendah yaitu 1,4 persen.

Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Anggota Mulai 2025, Ini Tuntutan Masyarakat

Angka ini terungkap dalam diskusi daring oleh Ketua Tim Kerja Kementerian Kesehatan, Yunita Arihandayani, menyoroti tantangan serius kesehatan mental di Jakarta.

Prevalensi Depresi di Jakarta dan Nasional

Dalam laporan terbaru mengenai kesehatan jiwa, prevalensi gangguan mental di Indonesia menunjukkan angka yang mencolok, terutama pada kelompok usia di atas 15 tahun.

Yunita Arihandayani menjelaskan, "Terkait data gangguan depresi, rata-rata nasional 1,4 persen, DKI Jakarta sedikit lebih tinggi, 1,5 persen." Hal ini menunjukkan bahwa Jakarta menghadapi tantangan kesehatan mental yang cukup signifikan.

Sementara itu, Jawa Barat tercatat sebagai daerah dengan prevalensi tertinggi yaitu sebesar 4,4 persen, dan DKI Jakarta berada di posisi kedua dengan angka 2,2 persen.

Tantangan dalam Mencari Pengobatan

Meski angka kasus kesehatan jiwa cukup mencolok, hanya sedikit individu yang berinisiatif mencari bantuan profesional.

Baca juga: Menggali Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari

Yunita mencatat bahwa hanya 0,7 persen individu dengan gangguan kecemasan dan 12,7 persen orang dengan depresi yang melakukan pengobatan.

Kekurangan kesadaran diri dan stigma negatif seputar kesehatan mental menjadi penghalang utama. Yunita menegaskan, "Misalnya, sering dibilang orang yang sedih terus, orang yang enggak punya semangat, dibilang kurang kuat iman."

Kondisi ini menciptakan tekanan sosial di mana individu dengan masalah kesehatan mental merasa terisolasi dan enggan untuk mencari dukungan.

Pentingnya Deteksi Dini Kesehatan Jiwa

Kementerian Kesehatan bekerja untuk memangkas stigma dengan mendorong masyarakat melakukan skrining kesehatan jiwa sebagai upaya deteksi dini.

Yunita menegaskan, "Ketika tidak mencari pengobatan, dibiarkan depresi, ringan awalnya, tapi kemudian jadi semakin parah." Penanganan yang terlambat dapat mengakibatkan dampak serius bagi individu dan masyarakat.

Oleh karena itu, kesadaran dan tindakan kolektif untuk menangani masalah kesehatan mental ini sangat diperlukan.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU