Perekrutan Anak oleh Kelompok Terorisme melalui Media Sosial: Densus 88 Ungkap Data Mengkhawatirkan
Densus 88 Antiteror Polri mengungkapkan bahwa kelompok terorisme telah berupaya merekrut 110 anak secara daring. Penangkapan terhadap para perekrut dilakukan selama periode Desember 2024 hingga 17 November 2025.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Menjadi Panduan Utama Keuangan di Era Digital
Juru bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menyatakan bahwa rekrutmen ini terjadi tanpa tatap muka antara pelaku dan calon korban, menunjukkan metode yang semakin canggih dan berbahaya.
Perekrutan Anak melalui Media Sosial
Dalam konferensi pers yang diadakan di Mabes Polri, AKBP Mayndra menjelaskan bahwa kelompok perekrut terdiri dari lima orang, antara lain FW alias JT asal Medan dan MSVO dari Tegal. Setiap penangkapan dilakukan dengan metode yang seksama untuk mengungkap jaringan yang lebih luas.
Mayndra menekankan bahaya radikalisasi di kalangan anak-anak yang kini semakin terlihat. 'Keberadaan lebih dari 110 anak yang sedang teridentifikasi menunjukkan dampak serius dari rekrutmen daring ini,' tuturnya, menyoroti pentingnya kesadaran publik terhadap isu ini.
Baca juga: Presiden Prabowo Berikan Penghargaan bagi Polisi Terluka dalam Aksi Demonstrasi
Rencana Aksi Teror yang Melibatkan Anak
Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, Karopenmas Divisi Humas Polri, menambahkan bahwa telah terdeteksi rencana aksi teror yang melibatkan anak-anak tersebut. 'Anak-anak ini berada dalam rentang usia 10 hingga 18 tahun,' jelas Truno, memberi gambaran betapa mengkhawatirkannya situasi ini.
Densus 88 juga fokus pada pencegahan, melakukan intervensi kepada anak-anak yang terindikasi teradikalisasi. 'Aksi teror di Banten yang direncanakan pada akhir 2024 menjadi salah satu target kami,' ujar Truno, menekankan keseriusan usaha mereka.
Metode Propaganda dalam Perekrutan
Truno selanjutnya menjelaskan modus penyebaran propaganda yang digunakan oleh kelompok teror. Mereka memanfaatkan platform terbuka seperti Facebook dan Instagram untuk menarik perhatian, kemudian beralih ke media yang lebih tertutup seperti WhatsApp atau Telegram untuk menghubungi calon anggota.
Pada bulan September 2025, terdeteksi ada 29 anak di 17 provinsi yang bersiap melakukan aksi teror. Rencana-rencana ini termasuk deteksi aktivitas di Jawa Tengah pada bulan Oktober 2025, melibatkan 70 anak di 23 provinsi.
Baca juga: Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke RS Polri: Memantau Korban Aksi Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: