Senin, 17 NOVEMBER 2025 • 16:01 WIB

Krisis Penyakit Ginjal Kronis dan Implikasinya di Seluruh Dunia

Author

Krisis Penyakit Ginjal Kronis dan Implikasinya di Seluruh Dunia

Dunia saat ini menghadapi masalah kesehatan serius terkait penyakit ginjal kronis yang sering terabaikan. Dengan 788 juta orang dewasa terpengaruh pada tahun 2023, kasus gagal ginjal terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi.

Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online

Penyakit ini menempati peringkat kesembilan dalam daftar penyebab kematian dengan 1,5 juta nyawa melayang pada tahun ini. Sayangnya, lebih dari setengah dari penderita tidak menyadari bahwa ginjal mereka dalam kondisi yang berbahaya.

Peningkatan Kasus Gagal Ginjal dan Penyebabnya

Riset terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa kasus gagal ginjal atau Chronic Kidney Disease (CKD) meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup modern. Sebagian besar penderita berada pada stadium awal yang tidak menunjukkan gejala jelas, sehingga mereka tidak menyadari kerusakan ginjal yang sedang berlangsung.

IHME mengidentifikasi beberapa faktor risiko utama, termasuk gula darah puasa yang tinggi, kegemukan, dan hipertensi. Meskipun diabetes dan hipertensi sering menjadi penyebab utama, kontribusi pola makan, lingkungan, serta faktor sosial ekonomi juga tidak kalah penting dalam meningkatkan angka CKD.

Di beberapa wilayah spesifik, seperti Amerika Tengah, fenomena CKD of Unknown Etiology (CKDu) menunjukkan peningkatan dramatis. Kasus ini umumnya menimpa pekerja yang berisiko terpapar panas ekstrem dan dehidrasi, sehingga menuntut perhatian lebih terhadap dampak perubahan iklim pada kesehatan.

Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor, WFH Dicatat

Ketimpangan Akses Layanan Kesehatan

Krisis kesehatan ini semakin dipersulit oleh ketimpangan dalam akses layanan kesehatan. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah seringkali memiliki beban CKD yang lebih berat, namun akses terhadap dialisis dan transplantasi ginjal sangat terbatas.

Sebaliknya, meskipun negara maju memiliki prevalensi CKD yang lebih rendah, mereka juga menawarkan akses lebih baik terhadap terapi pengganti ginjal. Ketidaksetaraan ini menyebabkan tingginya angka kematian akibat CKD di negara berkembang, di mana banyak pasien tidak mendapatkan perawatan yang cukup.

IHME juga menyebutkan bahwa kerusakan ginjal memiliki dampak lebih luas daripada yang terduga. Disfungsi ginjal menyumbang 11,5% dari kematian akibat penyakit jantung secara global, menunjukkan adanya keterhubungan erat antara CKD dan masalah kardiovaskular.

Pentingnya Deteksi Dini dan Kebijakan Kesehatan Publik

IHME menegaskan bahwa deteksi dini menjadi kunci dalam upaya memerangi CKD. Meski beberapa negara yang lebih maju memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik, skrining untuk mendeteksi risiko CKD masih sangat jarang dilakukan.

Peneliti berharap hasil riset ini mendorong para pengambil kebijakan untuk lebih serius memasukkan CKD ke dalam agenda kesehatan publik. Memperluas akses terhadap pengobatan yang efektif merupakan langkah penting untuk memperlambat kerusakan ginjal dan mencegah komplikasi yang lebih serius.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan CKD sebagai salah satu penyakit tidak menular yang menjadi prioritas global, menegaskan pentingnya perhatian lebih terhadap penyakit ini sebanding dengan kanker dan diabetes.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio: Polisi Komitmen Ungkap Pelaku

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU