Pertemuan antara kecerdasan buatan (AI) dan krisis air bersih semakin mengundang perhatian. Penggunaan chatbot seperti ChatGPT menunjukkan dampak signifikan terhadap ketersediaan air bersih di Bumi.
Baca juga: Kritik Terhadap Penangkapan Direktur Lokataru: Komnas HAM dan DPR Suarakan Kepedulian
Berbagai klaim menyebutkan bahwa AI berkontribusi pada hilangnya sumber daya air dan penipisan lapisan ozon. Namun, analisis ilmiah mengungkapkan kompleksitas di balik hubungan ini.
Konsumsi Air dan Energi oleh Pusat Data AI
Setiap interaksi dengan chatbot AI seperti ChatGPT memerlukan kapasitas tinggi dari pusat data untuk memproses permintaan. Proses ini berkontribusi pada penggunaan air bersih untuk sistem pendinginan yang diperlukan.
Sebuah studi dari University of California, Riverside menunjukkan bahwa pelatihan model GPT-3 menggunakan sekitar 700 ribu liter air, tergantung lokasi dan metode pendinginan yang diterapkan. Ini mencerminkan betapa besarnya konsumsi air dalam interaksi dengan AI.
Selain itu, setiap pengguna dapat menyedot antara 300 hingga 500 ml air untuk 20 hingga 50 permintaan harian, memperlihatkan dampak signifikan dari kecerdasan buatan terhadap penggunaan air.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Baru untuk Talenta Indonesia
Monitoring Penggunaan Air oleh Perusahaan Teknologi
Laporan dari Analytics Vidhya yang ditulis K.C. Sabreena Basheer memberikan gambaran jelas mengenai peningkatan konsumsi air teknologi AI. Konsumsi air Microsoft, misalnya, melonjak 34 persen dari 2021 ke 2022, sementara Google menunjukkan peningkatan sebesar 20 persen.
Peningkatan ini bisa memicu krisis air global jika pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik. Basheer menekankan, "Interaksi global yang tinggi dengan AI secara signifikan mempengaruhi jumlah air yang digunakan."
Menanggapi potensi risiko ini, beberapa perusahaan telah mengambil langkah mitigasi, seperti beralih ke energi terbarukan dan mereview sistem pendinginan mereka.
Pemanasan Global dan Pengelolaan Lingkungan
International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik untuk pusat data global, yang banyak digunakan untuk AI, diperkirakan mencapai 900 TWh pada tahun 2026. Jika sumber tenaga berasal dari bahan bakar fosil, hal ini dapat meningkatkan jejak karbon yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa klaim bahwa AI menipiskan lapisan ozon tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Penipisan ozon lebih terkait dengan senyawa kimia tertentu dan tidak secara langsung dipengaruhi oleh aktivitas AI.
Dalam konteks ini, industri teknologi berkomitmen untuk mengurangi jejak ekologis yang dihasilkan dari pengoperasian kecerdasan buatan, dengan fokus pada penggunaan energi bersih dan inovasi dalam metode pendinginan.
Baca juga: Sherina Munaf Menyelamatkan Kucing di Tengah Kontroversi Perampokan Rumah Uya Kuya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: