Keluarga Cendana memberikan tanggapan terkait kontroversi penetapan Presiden ke-2 RI, Soeharto, sebagai pahlawan nasional. Penetapan ini dilakukan pada 10 November 2025, berbarengan dengan sembilan tokoh lainnya.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Merayakan 80 Tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat
Siti Hardiyanti Rukmana, atau lebih dikenal sebagai Tutut Soeharto, percaya bahwa masyarakat kini mampu menilai sejarah dan peran Soeharto selama 32 tahun masa jabatannya tanpa intervensi dari keluarga.
Pro dan Kontra Penetapan Soeharto
Tutut Soeharto menjelaskan bahwa masyarakat saat ini memiliki kemampuan untuk mengevaluasi tindakan Soeharto. "Saya rasa rakyat sudah makin pintar, mas, apalagi wartawan, pintar-pintar kabeh, bisa melihat apa yang bapak lakukan, bisa menilai sendiri," ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta.
Ia juga mengutarakan bahwa adanya pro dan kontra merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. "Jadi boleh-boleh saja kok kontra tapi juga jangan ekstrem gitu, yang penting kita jaga kesatuan dan persatuan," tambahnya.
Tutut mengajak pihak yang tidak setuju untuk mempertimbangkan jasa-jasa yang telah diberikan Soeharto selama kepemimpinannya. Menurutnya, pemahaman mengenai perjuangan Soeharto untuk bangsa adalah hal yang sangat penting.
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Penghargaan dan Rasa Syukur Keluarga
Dalam kesempatan tersebut, Tutut juga menyampaikan rasa syukur keluarga atas pengakuan yang diberikan pemerintah. Penghargaan ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan kontribusi Soeharto dalam pembangunan Indonesia.
Penting untuk dicatat bahwa Soeharto ditetapkan sebagai pahlawan nasional bersamaan dengan sembilan tokoh lainnya. Di antara mereka adalah Abdurrahman Wahid dan Mochtar Kusumaatmadja, yang kesemuanya merupakan figur penting dalam sejarah perpolitikan Indonesia.
Meskipun banyak kritik yang muncul, Tutut tetap optimis bahwa masyarakat akan memberi penilaian yang objektif terhadap Soeharto. Baginya, pengakuan ini bukan sekadar gelar, tetapi sebagai pengakuan atas jasa yang telah diberikan di masa lalu.
Menyeimbangkan Pendapat dalam Masyarakat Modern
Tutut berharap bahwa masyarakat modern dapat menganalisis informasi dengan cara yang kritis, terutama mengenai sejarah pemerintahan masa lalu. Kesadaran terhadap peran sejarah dalam konteks demokrasi sangatlah vital.
Di era informasi sekarang ini, rakyat bukan hanya sekadar konsumen berita, tetapi juga berperan dalam mengevaluasi pemimpin dan kebijakan mereka. Ini sejalan dengan keyakinan Tutut mengenai kecerdasan masyarakat.
Pro dan kontra adalah hal yang biasa, namun pemahaman mendalam mengenai sejarah diharapkan bisa menjembatani perbedaan pandangan serta mengcreate dialog yang konstruktif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: