Jumat, 07 NOVEMBER 2025 • 23:52 WIB

Menilai Kesuksesan di Era Media Sosial

Author

Menilai Kesuksesan di Era Media Sosial

Di era digital saat ini, sering kali kita terperangkap dalam perbandingan dengan hidup orang lain yang tampak lebih sukses. Hal ini terutama karena media sosial menyajikan hanya versi terbaik dari diri mereka, mengabaikan perjuangan yang mungkin tidak terlihat.

Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dikonfirmasi dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Fenomena ini dapat membentuk ilusi bahwa kehidupan orang lain sempurna dan mengabaikan kenyataan di balik layar. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana perspektif kesuksesan dan dukungan sosial dapat memengaruhi cara kita menilai diri sendiri.

Ilusi Media Sosial

Media sosial kini jadi bagian penting dalam hidup kita. Dari Instagram sampai Facebook, semua memperlihatkan sisi terbaik seseorang tanpa menampilkan kelemahan atau jatuh bangun yang dialami.

Hal ini membuat kesan bahwa hidup orang lain sempurna, padahal kenyataannya sering kali jauh dari itu. Banyak dari mereka berjuang namun tidak membagikannya di dunia maya.

Standar Sukses yang Berbeda

Definisi sukses itu sangat subjektif. Apa yang dianggap sukses bagi satu orang, belum tentu sama bagi orang lain.

Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation: Tuduhan Provokasi Anarkis

Beberapa orang mungkin mengukur kesuksesan dari segi materi, sementara yang lain lebih melihat kebahagiaan dan ketenangan batin.

Hal ini sering kali menjadikan perbandingan kita dengan orang lain menjadi tidak adil. Kita harus ingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan tujuan hidup yang berbeda.

Persepsi Diri dan Sistem Dukungan

Ada kalanya perspektif kita tentang diri sendiri memengaruhi cara kita melihat orang lain. Jika kita merasa kurang berharga, tentu semua orang tampak lebih hebat.

Dukungan dari lingkungan juga berperan penting. Orang-orang yang dikelilingi oleh pendukung cenderung lebih berani mengambil risiko dan mengejar mimpi, sehingga terlihat lebih berhasil.

Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki jaringan dukungan bisa merasa terisolasi, membuat pencapaian orang lain tampak lebih mengesankan.

Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Karena Kondisi Jakarta yang Tidak Kondusif

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU