Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) di Indonesia mengalami pelambatan yang cukup signifikan pada kuartal III-2025. Menurut data terbaru dari Bank Indonesia, total nilai KPR secara tahunan hanya tumbuh 7,39%, jauh di bawah pertumbuhan tahun lalu.
Baca juga: Apple Siap Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Pada kuartal II-2025, KPR tercatat tumbuh 7,81%, jadi penurunan ini cukup mencolok. Selain itu, angka pertumbuhan KPR di kuartal ini juga di bawah 10,37% dari kuartal yang sama tahun lalu.
Pelambatan Pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah
Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia kuartal III-2025, pertumbuhan KPR menunjukkan penurunan yang cukup tajam. 'Total nilai KPR secara tahunan tumbuh sebesar 7,39% (yoy), melambat dibandingkan 7,81% (yoy) pada triwulan sebelumnya,' demikian laporan tersebut.
Data ini mencerminkan adanya berkurangnya minat masyarakat dalam menggunakan skema kredit untuk membeli rumah. Pelambatan ini menjadi indikator bahwa minat beli rumah dengan fasilitas KPR masih rendah.
Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil turut berkontribusi terhadap keputusan masyarakat untuk tidak mengambil risiko lebih dalam investasi properti.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Kenaikan Suku Bunga Kredit Pemilikan Rumah
Dalam laporan yang sama, terlihat bahwa suku bunga KPR mengalami kenaikan hingga 7,45% per tahun. 'Lebih tinggi dari catatan kuartal II-2025 yang sebesar 7,41% dan kuartal III-2024 sebesar 7,44%,' yang menunjukkan tren peningkatan biaya pinjaman.
Kenaikan suku bunga ini berpotensi memengaruhi keputusan warga untuk mengambil KPR. Hal ini menyebabkan banyak calon pembeli menunda keputusan untuk berinvestasi di properti.
Ketidakpastian pasar dan meningkatnya pengeluaran menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih skema pembiayaan rumah.
Sumber Pembiayaan Pembangunan Properti Residensial
Pembiayaan pembangunan properti residensial di Indonesia menunjukkan pola yang menarik. Mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal, dengan pangsa 77,67% dari total sumber pembiayaan.
Pinjaman perbankan hanya menyumbang 16,02%, sementara pembayaran dari konsumen berkontribusi sebesar 6,31%. Hal ini menunjukkan bahwa pengembang lebih memilih untuk menggunakan sumber daya internal dari pada mengandalkan kredit bank.
Dari sisi konsumen, pembelian rumah primer masih didominasi oleh KPR, dengan pangsa sebesar 74,41%. Pembayaran rumah secara tunai bertahap dan tunai juga memberikan kontribusi, meskipun masih lebih rendah.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio: Polisi Komitmen Ungkap Pelaku
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: