Spesies nyamuk Culex quinquefasciatus yang biasanya ditemukan di negara tropis kini terdeteksi di Pulau Jeju, Korea Selatan, untuk pertama kalinya. Temuan ini menunjukkan adanya perubahan iklim yang signifikan dan dampaknya terhadap ekosistem lokal.
Baca juga: Inovasi Dolby Vision 2: Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mengkonfirmasi penemuan ini pada 3 November, setelah sampel nyamuk yang diambil pada bulan Agustus menunjukkan keberadaan spesies tersebut di wilayah tersebut.
Konfirmasi Keberadaan Nyamuk Tropis
Pejabat KDCA mencatat bahwa meskipun asal-usul nyamuk tersebut belum jelas, kini Korea Selatan berpotensi menjadi habitat bagi nyamuk tropis. "Kami akan memeriksa apakah spesies ini juga telah menyebar ke wilayah lain di luar Pulau Jeju pada musim berikutnya," ujar pejabat KDCA, seperti dikutip dari The Straits Times.
Culex quinquefasciatus merupakan bagian dari kompleks spesies C. pipiens, yang merupakan nyamuk rumah umum yang tersebar di Asia, Eropa, dan Afrika. Umumnya, spesies ini beradaptasi lebih baik di daerah dengan iklim yang lebih hangat dibandingkan dengan Korea Selatan.
Meskipun ada catatan penelitian dari tahun 1956 yang menunjukkan kemungkinan keberadaannya di Korea Selatan, penemuan kali ini menjadi konfirmasi yang nyata terkait spesies ini.
Baca juga: Drama Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dan Pergerakan Tim Lain
Perluasan Habitat Nyamuk di Pulau Jeju
KDCA mengamati bahwa penemuan nyamuk ini terjadi di beberapa lokasi di Pulau Jeju, menunjukkan bahwa spesies telah berhasil beradaptasi dan membentuk habitat di Korea. Pemantauan lebih lanjut bakal dilakukan untuk mendeteksi potensi penyebaran penyakit yang dibawa oleh nyamuk ini.
Fenomena ini konsisten dengan tren global, di mana dampak perubahan iklim menyebabkan perluasan habitat hewan berdarah dingin ke daerah yang sebelumnya tidak sesuai untuk mereka. Ilmuwan memprediksi bahwa kejadian serupa dapat terjadi di wilayah lain akibat kenaikan suhu global.
Nyamuk ini juga teridentifikasi di negara lain seperti Islandia, di mana spesies Culiseta annulata memiliki kemampuan bertahan di iklim dingin.
Kaitan dengan Perubahan Iklim Global
Kemunculan nyamuk tropis di wilayah non-tropis mencerminkan dampak perubahan iklim yang semakin meluas. Dengan suhu yang semakin meningkat, kemungkinan spesies hewan yang sebelumnya tidak dapat beradaptasi kini dapat berkembang biak di wilayah tersebut semakin besar.
Menurut penelitian, nyamuk lebih menyukai daerah dengan suhu rata-rata di atas 28 derajat Celsius. Penemuan ini menunjukkan potensi perubahan signifikan bagi ekosistem di wilayah tersebut.
Proses adaptasi nyamuk terhadap lingkungan baru masih perlu diawasi untuk mencegah potensi risiko kesehatan masyarakat akibat penyebaran penyakit dari spesies baru ini.
Baca juga: Direktur Lokataru Ditangkap: Kontroversi Penghasutan dan Kebebasan Sipil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: