Sabtu, 01 NOVEMBER 2025 • 20:30 WIB

Menggali Lebih Dalam Mengenai Konten Viral di Era Digital

Author

Menggali Lebih Dalam Mengenai Konten Viral di Era Digital

Founder Indozone Media, Ricky Silaen, berbagi pandangan menarik mengenai konten viral di festival kreatif IdeaFest 2025 di Jakarta Convention Center.

Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kecelakaan Maut Ojol

Ia menjelaskan bagaimana euforia viralitas dapat berubah menjadi tantangan bagi para kreator konten.

Dari Konten Simpel Menjadi Viral

Ricky memulai penjelasannya dengan menjabarkan proses pembuatan konten viral, yang sering kali dimulai dari ide sederhana tanpa perencanaan yang rumit. "Kalau ngomong viral semua itu berawal dari sebuah simpel konten. Ada sebuah pemikiran kreatif, ide yang tiba-tiba muncul malam-malam di pikiran, kita enggak punya strategi, enggak punya target, cuma mau bikin konten aja terus mulai upload," ujarnya.

Ia mencatat bahwa setelah konten diunggah, efek viral bisa sangat mengejutkan. "Kita posting, lalu kita tinggal tidur, besok pagi kita bangun tiba-tiba bom, kontennya meledak, ramai," tambahnya.

Situasi ini menunjukkan betapa cepatnya dunia digital dapat mengubah sebuah karya menjadi fenomena.

Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online

Dampak Viralitas Terhadap Pencipta Konten

Setelah konten menjadi viral, reaksi yang muncul sering kali tidak terduga. Ricky menjelaskan bahwa tantangan baru muncul dengan lonjakan notifikasi di ponsel dan perhatian yang tiba-tiba dari banyak pihak.

"Viral itu kalau menurut kita rasanya kayak euforia campur panik, tapi at the same time enggak ada yang bilang bahwa perasaan viral itu sama aja kayak kita harus minum dari selang pemadam kebakaran," ungkapnya.

Dalam momen ini, banyak kreator yang mulai merasa tekanan untuk memproduksi konten yang sama atau lebih baik.

Kreativitas Menjadi Tertekan Oleh Standar Konten

Ricky menjelaskan bagaimana peran pencipta konten beralih dari sekadar menceritakan kisah menjadi fokus analisis algoritma dan kinerja konten. "Di sini akhirnya kita berhenti jadi storyteller, kita berubah jadi ilmuwan algorithm, the algorithm whisperer," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun viralitas dapat memberikan jangkauan yang luas, hal ini juga menimbulkan risiko. "Yes, viral bisa kasih kita banyak reach but, it takes away our soul, kita kehilangan soul kita," jelasnya.

Ketika tuntutan untuk mencapai angka viewer yang tinggi meningkat, banyak kreator berjuang untuk mempertahankan esensi kreativitas mereka.

Baca juga: Kunto Aji : Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Diterima Seutuhnya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU