Minggu, 19 OKTOBER 2025 • 09:56 WIB

Mikroplastik Terdeteksi dalam Air Hujan Jakarta: Ancaman Kesehatan Serius

Author

Mikroplastik Terdeteksi dalam Air Hujan Jakarta: Ancaman Kesehatan Serius

Temuan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa mikroplastik berbahaya terdeteksi dalam air hujan di Jakarta. Ini merupakan peringatan serius terkait polusi plastik yang mencemari atmosfer dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Partikel mikroplastik ditemukan dalam setiap sampel air hujan, dengan rata-rata 15 partikel per meter persegi setiap harinya. Penelitian ini, yang berlangsung sejak tahun 2022, mengungkapkan siklus plastik yang mencapai atmosfer, berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Asal Usul Mikroplastik dalam Air Hujan

Mikroplastik yang terdeteksi dalam air hujan Jakarta berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di lingkungan terbuka. Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, menyatakan bahwa partikel-partikel ini terbentuk akibat aktivitas manusia sehari-hari.

Reza menjelaskan, 'Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka.' Hal ini menunjukkan besarnya kontribusi polusi plastik dalam lingkungan urban.

Berdasarkan penelitian, mikroplastik ditemukan dalam bentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama yang berasal dari bahan polimer seperti poliester, nilon, dan polipropilena. Fenomena ini menandakan bahwa siklus plastik kini menyentuh atmosfer, tidak hanya terbatas pada daratan dan lautan.

Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Perjuangan Masyarakat

Dampak Kesehatan Mikroplastik

Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan dan asap pembakaran, yang kemudian terbawa angin sebelum jatuh kembali dalam bentuk hujan. Proses ini, dikenal sebagai atmospheric microplastic deposition, menunjukkan bahwa siklus plastik tidak berhenti di laut.

Reza menegaskan, 'Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan.' Ini menunjukkan pentingnya memahami hubungan antara polusi plastik dan kesehatan publik.

Partikel mikroplastik yang berukuran sangat kecil bisa terhirup manusia atau masuk ke tubuh melalui air dan makanan. Meskipun air hujan bukanlah sumber utama racun, partikel mikroplastik itu mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat mengikat polutan lain.

Respons Lingkungan dan Upaya Penanganan

Menanggapi temuan ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berkoordinasi dengan BRIN untuk menangani isu mikroplastik. Kepala DLH, Asep Kuswanto, menggarisbawahi bahwa polusi plastik perlu direspons secara kolaboratif dan cepat, mengingat implikasinya yang telah mencapai atmosfer.

Asep mengatakan, 'Kami memandang temuan BRIN ini sebagai alarm lingkungan yang perlu direspons cepat dan kolaboratif. Polusi plastik kini bukan hanya urusan laut atau sungai, tetapi sudah sampai di langit Jakarta.'

DLH DKI Jakarta tengah memperkuat program untuk mengendalikan sampah plastik, termasuk pemantauan kualitas udara dan air hujan. Asep juga menekankan pentingnya edukasi publik dalam mengurangi penggunaan plastik dan kepedulian terhadap pengelolaan limbah.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU