Senin, 13 OKTOBER 2025 • 13:07 WIB

Bahasa Isyarat dalam Kurikulum Nasional: Mendorong Pendidikan Inklusif di Indonesia

Author

Bahasa Isyarat dalam Kurikulum Nasional: Mendorong Pendidikan Inklusif di Indonesia

Wacana untuk memasukkan bahasa isyarat ke dalam kurikulum nasional Indonesia kembali mencuat, diprakarsai oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno.

Baca juga: Direktur Lokataru Ditangkap: Kontroversi Penghasutan dan Kebebasan Sipil

Inisiatif ini dianggap sangat penting untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif di tanah air, yang akan menjamin hak belajar setara bagi semua peserta didik.

Urgensi Bahasa Isyarat dalam Pendidikan

Bahasa isyarat diusulkan menjadi salah satu komponen penting dalam kurikulum nasional untuk mendukung pendidikan inklusif di Indonesia.

Dr. Fitri Mutia, Dosen Universitas Airlangga, menekankan bahwa inisiatif ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 yang menjamin hak belajar bagi peserta didik penyandang disabilitas.

Dari sisi penerapan, dukungan pemerintah dalam bentuk anggaran dan sarana prasarana menjadi krusial untuk keberhasilan kebijakan ini.

Institusi pendidikan juga diharapkan dapat memfasilitasi peserta didik tuli secara maksimal untuk memastikan aksesibilitas yang diperlukan.

Perubahan Paradigma Masyarakat

Fitri mengungkapkan bahwa perubahan ini tidak hanya membutuhkan regulasi, tetapi juga transformasi dalam cara pandang masyarakat terhadap penyandang tuli.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Tembakan Gas Air Mata dan Provokasi di Depan Kampus

Ada anggapan keliru bahwa penyandang tuli harus beradaptasi dengan dunia pendengaran, padahal seharusnya ini adalah tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.

Bahasa isyarat dianggap sebagai metode komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan membaca gerak bibir.

Melibatkan perspektif komunitas tuli dalam pelaksanaan kebijakan ini menjadi hal yang sangat penting agar kebijakan bisa lebih relevan.

Kesiapan dalam Implementasi

Dr. Fitri menekankan pentingnya pengetahuan tentang bahasa isyarat yang diimplementasikan secara menyeluruh dalam sistem pendidikan.

Pelatihan bagi tenaga pendidik dan penyusunan kurikulum inklusif juga menjadi bagian dari rencana untuk menerima peserta didik tuli di institusi pendidikan umum.

Meskipun wacana ini belum terealisasi, Fitri optimis bahwa langkah ini dapat menjadi titik awal untuk sistem pendidikan yang lebih inklusif.

Keyakinan terhadap terciptanya ruang belajar yang empatik muncul dari harapan untuk saling pengertian antara masyarakat umum dan penyandang disabilitas.

Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU