Penuaan tidak hanya mempengaruhi fisik, tetapi juga fungsi kognitif seseorang. Menurut Dr. Vassily Eliopoulos, ada sejumlah tanda peringatan dini yang sering kali diabaikan, padahal itu bisa menjadi indikasi penuaan otak yang lebih cepat.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Senne Lammens
Banyak orang menganggap gejala-gejala ini sebagai akibat dari stres atau kelelahan sehari-hari. Namun, jika tidak diatasi, masalah ini bisa berlanjut dan menjadi lebih serius.
Tanda-Tanda Peringatan Dini
Salah satu tanda awal menurunnya fungsi kognitif adalah merasa cepat lelah saat berbicara, meskipun dalam obrolan ringan. Dr. Vassily menjelaskan bahwa interaksi sosial seharusnya menjadi stimulasi positif untuk otak, bukan justru menguras tenaga.
Jika neuron mengalami overdrive atau ada tingkat peradangan yang tinggi, diskusi sederhana yang seharusnya menyenangkan bisa menyebabkan kelelahan mental. Ini bisa menjadi indikasi bahwa metabolisme energi otak mulai melambat, sering kali berkaitan dengan kurang tidur, stres, atau kurangnya nutrisi.
Sering lupa kata-kata yang ingin diucapkan juga merupakan sinyal peringatan. Dr. Vassily menyebut kondisi ini sebagai 'celah pengambilan', di mana informasi ada di memori, tetapi jalur saraf untuk mengingatnya lemah akibat berkurangnya aktivitas neurotransmiter.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Lima: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Perubahan Emosional dan Sensori
Kenaikan iritabilitas tanpa alasan yang jelas bisa menjadi tanda adanya neuroinflamasi. Ketika hormon stres seperti kortisol tetap tinggi terlalu lama, ini dapat mengacaukan pusat pengaturan emosi di otak.
Dr. Vassily mencatat bahwa meningkatnya sensitivitas kemarahan dan frustrasi bisa mempercepat penuaan otak akibat kerusakan koneksi saraf. Tidak jarang, seseorang merasa lelah meskipun tidur cukup, yang menandakan otak tidak beristirahat dengan baik.
Inefisiensi tidur kronis dapat menyebabkan penumpukan plak amiloid di otak, yang terkait dengan penyakit Alzheimer, sebuah isu penting yang perlu diperhatikan.
Kesehatan Mental dan Pola Makan
Perubahan sensitivitas terhadap kebisingan dan cahaya merupakan pertanda lain. Ketika sistem saraf menjadi hiperreaktif, ini menunjukkan bahwa filter sensorik otak mengalami penurunan, sering dialami oleh individu yang terpapar stres kronis atau banyak waktu di depan layar.
Kejernihan mental yang berkurang setelah makan bisa disebabkan oleh fluktuasi glukosa atau peradangan usus-otak. Dr. Vassily memperingatkan bahwa makanan tinggi gula atau karbohidrat olahan dapat memperlambat kinerja mental dengan memicu lonjakan insulin.
Akhirnya, kebingungan dalam lingkungan yang dikenal juga merupakan sinyal peringatan. Hal ini dapat terjadi ketika hipokampus mulai menyusut akibat stres atau kurangnya latihan mental, yang berdampak pada kemampuan untuk bernavigasi dan mengingat.
Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: