Presiden Prancis, Emmanuel Macron, kini berada di ujung tanduk akibat krisis politik yang semakin mendalam di negaranya. Desakan untuk menemukan solusi bahkan datang dari dalam kalangan sekutunya sendiri, termasuk mantan Perdana Menteri yang mendorong Macron untuk mundur demi stabilitas.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan
Krisis ini dipicu oleh pengunduran diri mendadak Perdana Menteri Sebastien Lecornu, yang menciptakan ketidakpastian bagi pemerintahan yang telah berkuasa sejak 2017. Situasi ini memaksa Macron untuk segera merumuskan jalan keluar bagi kelangsungan koalisi pemerintah.
Situasi Terkini setelah Pengunduran Diri PM
Krisis politik di Prancis memasuki fase baru setelah pengunduran diri Sebastien Lecornu pada 6 Oktober 2025. Macron mengakui keputusan tersebut, namun memberikan tenggat hingga 8 Oktober malam untuk merumuskan solusi bagi pemerintahan koalisi.
Dengan upaya untuk mencapai kompromi yang masih jauh dari kepastian, opsi untuk membubarkan parlemen dan menggelar pemilu legislatif mendadak kian mengemuka. Diharapkan, langkah ini akan menghasilkan susunan legislatif yang lebih efektif dan stabil.
Seorang ajudan Macron yang tidak ingin namanya disebutkan menyatakan bahwa presiden telah melakukan pembicaraan dengan ketua majelis tinggi dan rendah parlemen pada malam 7 Oktober. Dialog ini menjadi kunci jika pemilu baru direncanakan, meskipun rincian pertemuan tersebut belum diungkapkan.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Desakan untuk Pilpres Dipercepat
Ketidakstabilan dalam pemerintahan Macron semakin parah dengan pergantian tiga Perdana Menteri dalam kurun waktu satu tahun. Aurore Berge, juru bicara kepresidenan, menegaskan bahwa Macron akan tetap menjabat 'hingga menit terakhir masa jabatannya' pada tahun 2027.
Meskipun demikian, mantan Perdana Menteri Edouard Philippe mengungkapkan bahwa waktu untuk pilpres perlu disegerakan setelah pengesahan anggaran. Pernyataan ini dianggap cukup berpengaruh dalam konteks politik yang tengah dihadapi.
Philippe menyanpaikan kritik terhadap permainan politik yang menyebabkan ketidakstabilan dan berharap Macron mampu mengeluarkan Prancis dari krisis ini dengan 'cara yang terkendali dan bermartabat'.
Persaingan Politik Memanas di Depan Pilpres 2027
Menjelang pilpres 2027, persaingan politik di Prancis semakin memanas, dengan Macron tak mungkin mencalonkan diri. Philippe, yang merupakan kandidat potensial, terus dianggap sebagai pesaing kuat, terutama melawan sayap kanan ekstrem yang dipimpin Marine Le Pen.
Ketidakpastian politik ini berakar dari keputusan Macron untuk menggelar pemilu legislatif mendadak pada musim panas 2024, yang menyebabkan parlemen terpecah menjadi tiga blok bersaing. Ini memperburuk keadaan pemerintahan Macron yang terus berjuang menemukan stabilitas.
Dalam menghadapi tantangan ini, penunjukan Perdana Menteri baru sebagai kepala pemerintah kedelapan di era Macron menjadi opsi yang dipertimbangkan. Pilihan ini tidak hanya akan menentukan arah politik Prancis ke depannya, tetapi juga efektivitas pemerintah dalam menghadapi situasi sulit saat ini.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: