Greta Thunberg bersama ratusan relawan Global Sumud Flotilla (GSF) baru-baru ini tiba di Yunani usai dideportasi oleh Israel saat berusaha mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kecelakaan Maut Ojol
Setelah mendarat di Bandara Internasional Athena, Thunberg menekankan pentingnya misi tersebut dalam melawan blokade Israel yang dianggapnya ilegal dan tidak manusiawi.
Misi Humanitarian yang Dihalang
Global Sumud Flotilla (GSF) adalah gerakan internasional yang berupaya mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, yang saat ini berada di bawah blokade Israel. Armada GSF berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada awal September 2025 dengan melibatkan sekitar 40 kapal sipil.
Ketika berlayar menuju Gaza, armada ini dicegat oleh Angkatan Laut Israel di lepas pantai Mesir. Israel menuduh GSF berafiliasi dengan Hamas, yang menimbulkan ketegangan internasional, terutama terkait pelanggaran hak asasi manusia di wilayah konflik.
Thunberg, di tengah situasi sulit ini, menegaskan bahwa misi mereka merupakan upaya untuk 'mematahkan pengepungan ilegal dan tidak manusiawi Israel' melalui laut. Ia menambahkan bahwa dukungan internasional sangat dibutuhkan untuk mengatasi situasi ini.
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Reaksi dan Respons Global
Setelah mendarat di Athena, Thunberg mengungkapkan kepada awak media bahwa situasi tersebut sangat memalukan. 'Kita bahkan tidak melihat upaya minimum dari pemerintah kita,' ujarnya, menunjukkan kekecewaannya terhadap kurangnya respons dari pemerintah.
Dari total 171 aktivis yang dideportasi oleh Israel, Kementerian Luar Negeri Yunani menyatakan bahwa penerbangan yang mendarat di Athena membawa 27 warga Yunani dan 134 warga negara lain dari 15 negara Eropa. Hal ini mencerminkan dukungan internasional terhadap misi kemanusiaan tersebut.
Beberapa negara Eropa juga menyatakan keprihatinan atas pemindahan paksa ini, mendesak agar Israel menghormati hak asasi manusia serta kebebasan beraktivitas bagi semua individu yang terlibat.
Konteks Konflik dan Keberlanjutan Misi
Konflik antara Israel dan Palestina telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan banyak laporan yang menunjukkan kekerasan berkelanjutan terhadap warga sipil Palestina. Thunberg menumpahkan keprihatinannya, menekankan perlunya tindakan global untuk mencegah genosida yang meningkat terhadap Palestina, terutama dalam dua tahun terakhir.
Armada GSF sebelumnya pernah mengalami serangan saat berlayar di perairan Yunani dan saat berlabuh di Tunisia. Serangan-serangan ini dilaporkan sebagai upaya intimidasi terhadap misi bantuan kemanusiaan yang mereka jalankan.
Meskipun menghadapi tantangan besar, GSF berkomitmen untuk melanjutkan upaya mereka demi memperjuangkan hak asasi manusia dan pengiriman bantuan bagi yang sangat membutuhkannya.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengguncang Bursa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: