Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memperbarui data terbaru terkait korban peristiwa ambruknya bangunan di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ini, 58 orang masih dalam pencarian, setelah sebelumnya jumlah ini tercatat 59 orang.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Dari 108 orang yang berhasil dievakuasi, 30 di antaranya masih dirawat di rumah sakit, 73 orang telah pulang, dan 5 orang dinyatakan meninggal dunia.
Proses Pencarian dan Pertolongan
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di Ponpes Al-Khoziny kini memasuki tahap baru, fokus pada evakuasi korban meninggal dunia. Penggunaan alat berat dilakukan setelah tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan di lokasi peranginan.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyatakan bahwa tim SAR gabungan melakukan evaluasi mendalam dan memastikan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hal ini memicu keputusan untuk beralih dari pencarian hidup ke proses evakuasi jenazah.
Muhari menegaskan bahwa saat ini perhatian utama adalah proses evakuasi jenazah dan memberikan penjelasan kepada keluarga korban mengenai langkah-langkah berikutnya.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan
Pertemuan dengan Keluarga Korban
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, telah bertemu dengan keluarga korban di posko darurat yang dekat lokasi kejadian. Pertemuan ini bertujuan untuk memberikan dukungan dan informasi terbaru mengenai perkembangan situasi.
Dalam pernyataannya, Suharyanto memberikan hasil evaluasi mengenai situasi pencarian yang telah dilakukan, serta kesempatan bagi keluarga untuk bertanya mengenai anggota keluarga mereka yang masih hilang.
Muhari menekankan bahwa seluruh proses evakuasi harus mengikuti protokol yang ada, untuk menjamin keselamatan semua pihak yang terlibat.
Evakuasi Terdahulu dan Tindakan Selanjutnya
Pada Rabu (1/10), tim SAR gabungan sukses mengevakuasi tujuh orang, di mana lima dalam keadaan hidup dan dua lainnya dinyatakan meninggal. Sebelumnya, akses evakuasi dilakukan secara manual untuk meminimalkan risiko terhadap korban yang mungkin masih hidup.
Seiring dengan berjalannya waktu tanpa ditemukannya tanda-tanda kehidupan, penggunaan alat berat yang lebih efisien pun mulai diterapkan. Harapannya, evakuasi ini bisa mempercepat proses demi kejelasan bagi keluarga korban yang menunggu dengan cemas.
Sementara itu, keputusan untuk menggunakan alat berat diambil untuk memastikan proses evakuasi dapat dilanjutkan dengan cepat dan aman, sehingga keluarga korban mendapatkan kepastian dari situasi ini.
Baca juga: Sherina Munaf Menyelamatkan Kucing di Tengah Kontroversi Perampokan Rumah Uya Kuya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: