Minggu, 27 JULI 2025 • 13:58 WIB

Penyelidikan Kematian Diplomat Kementerian Luar Negeri Arya Daru Pangayunan Menghadapi Fase Penting

Author

youngthink.id – Penyelidikan mengenai kematian diplomat Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan, saat ini memasuki fase krusial setelah pihak kepolisian mengumpulkan sejumlah fakta baru. Motif di balik kematian Arya diharapkan bisa diungkap dalam waktu dekat, yang berfokus pada bukti-bukti yang telah diperoleh.

Kepala Subbidang Penerangan Masyarakat Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Reonald T.S. Simanjuntak, mengatakan temuan-temuan baru ini sangat penting bagi tim penyelidik. Di antara bukti baru tersebut termasuk asal-usul plakban kuning, telepon seluler yang hilang, serta isi tas yang ditinggalkan korban.

Fakta Baru Mengemuka

Kasus kematian Arya Daru mengungkap sejumlah fakta baru yang ditemukan oleh pihak kepolisian. Salah satu penemuan mencolok adalah plakban kuning yang ditemukan membalut wajahnya, yang biasanya digunakan untuk mengemas barang sebelum berangkat ke luar negeri.

Kepala Subbidang Penerangan Polda Metro Jaya, Reonald, menjelaskan bahwa penggunaan plakban adalah hal biasa untuk pegawai Kemenlu. “Plakban ini memang biasa digunakan oleh pegawai Kemenlu untuk mengemas barangnya, tujuannya agar saat berada di luar negeri, barangnya mudah dikenali,” katanya.

Istri Arya, Meta Ayu, juga mengonfirmasi bahwa plakban tersebut dibeli untuk mengemas barang-barangnya. “Bahkan beberapa plakban juga tersimpan di Yogyakarta,” sambung Reonald, merujuk pada temuan terkait penggunaan plakban tersebut.

Investigasi dan Temuan Lainnya

Dalam penyelidikan, pihak polisi juga menemukan telepon seluler milik Arya yang hilang. Meskipun telepon tersebut tidak ditemukan, penyelidik dapat mengakses isinya melalui laptop milik korban, yang memungkinkan mereka mengidentifikasi komunikasi Arya dengan keluarga dan sahabat.

Selain itu, tas yang ditinggalkan oleh Arya ditemukan di tangga darurat menuju rooftop Gedung Kemenlu, berisi rekam medis. Tas ini ditemukan sehari setelah kematian Arya dan menjadi fokus perhatian penyelidik.

Reonald menjelaskan bahwa penyelidikan kini berfokus pada penyinkronan semua bukti yang diperoleh agar kesimpulan yang akurat dapat diambil. “Karena jika ada satu saja puzzle yang hilang, penyelidik tidak bisa membuat kesimpulan,” tambahnya.

Beragam Pendapat Tentang Motif Kematian

Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, berpendapat bahwa kematian Arya bisa jadi adalah bunuh diri. “Dari fakta yang disampaikan, kemungkinan besar ini adalah kasus bunuh diri,” tegasnya, seraya menekankan pentingnya penyelidikan yang mendalam.

Sementara itu, Sosiolog Kriminalitas dari Universitas Gadjah Mada, Soeprapto, berpendapat bahwa bukti-bukti yang ada bisa mengindikasikan adanya keterlibatan pihak lain dalam kasus ini. “Hal lain yang perlu dipastikan oleh polisi, apakah Arya Daru datang sendirian atau sempat bertemu dengan seseorang,” ujarnya.

Soeprapto juga menekankan pentingnya untuk menyelidiki apakah barang-barang yang ditemukan menunjuk pada tekanan yang dialami oleh Arya. “Apakah di dalam plastik itu ada obat bius atau zat yang berfungsi untuk melumpuhkan korban agar tidak melakukan perlawanan saat dieksekusi?” tanyanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
BERITA TERBARU