Sabtu, 23 AGUSTUS 2025 • 14:56 WIB

Pelita Air Terapkan Bahan Bakar Ramah Lingkungan Pertama di Indonesia

Author

Generated by Journalist AI

youngthink.id – Pelita Air mencatat sejarah sebagai maskapai pertama di Indonesia yang melaksanakan penerbangan menggunakan bahan bakar olahan dari minyak jelantah. Penerbangan perdana ini menghubungkan Jakarta dengan Bali dan didukung oleh PT Pertamina (Persero).

Kementerian ESDM menilai langkah ini sebagai strategi penting dalam mengurangi emisi karbon serta mendorong ketahanan energi berkelanjutan. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menyatakan bahwa ini sejalan dengan program prioritas dari Presiden Prabowo.

Inovasi Berkelanjutan dalam Industri Penerbangan

Penerbangan Jakarta-Bali yang dilakukan oleh Pelita Air merupakan tonggak sejarah dalam pemanfaatan teknologi ramah lingkungan di sektor penerbangan. Dadan Kusdiana menjelaskan bahwa inovasi ini disebut Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan dapat mengurangi jejak karbon.

Bahan bakar yang berasal dari minyak goreng bekas ini dapat memangkas emisi karbon hingga 84% dibandingkan dengan penggunaan avtur fosil. Pertamina memastikan bahwa SAF ini tidak mengorbankan keselamatan dan performa pesawat.

Dengan adanya bioavtur yang memenuhi standar nasional dan internasional, penggunaan bahan bakar ini diyakini dapat menjadi solusi bagi industri penerbangan untuk mematuhi regulasi lingkungan yang semakin ketat.

Partisipasi Masyarakat dalam Program Pengumpulan Minyak Jelantah

Pertamina melibatkan masyarakat dalam program pengumpulan minyak jelantah untuk mendukung pasokan bahan baku yang stabil. Saat ini, terdapat 35 titik pengumpulan yang didirikan di lokasi strategis agar warga dapat lebih mudah mengelola limbah rumah tangga.

Melalui program ini, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penyedia bahan baku tetapi juga mendapatkan insentif dalam bentuk saldo rupiah. Dadan menegaskan bahwa partisipasi masyarakat adalah kunci dalam transisi ke energi bersih dan berkelanjutan.

Keunggulan lainnya dari program ini adalah meminimalisasi limbah domestik sembari memberikan penghasilan tambahan bagi warga.

Kolaborasi untuk Masa Depan Energi Hijau

Pengembangan SAF merupakan hasil kolaborasi yang telah berjalan sejak tahun 2021 antara Pertamina dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Kerja sama ini berhasil menghasilkan bahan bakar dengan campuran bioavtur yang diuji coba pada pesawat Dirgantara Indonesia.

Dua tahun setelahnya, pengujian dilanjutkan dengan pesawat komersial yang semakin memperkuat kesiapan penggunaan bahan bakar hijau di armada maskapai penerbangan Indonesia. Dadan berharap keberhasilan ini dapat mendorong pengembangan bioetanol yang masih dalam tahap penguatan kerja sama antar lembaga.

Meskipun banyak kemajuan dalam biodiesel, tantangan tetap ada dalam pengembangan bioetanol. Dadan menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar dalam sektor energi terbarukan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
BERITA TERBARU