BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Kamis, 23 APRIL 2026 • 12:59 WIB

Klarifikasi BGN Terkait Kebutuhan Sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis

Klarifikasi BGN Terkait Kebutuhan Sapi dalam Program Makan Bergizi GratisKlarifikasi BGN Terkait Kebutuhan Sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi mengenai kebutuhan mencapai 19.000 ekor sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyatakan bahwa angka tersebut merupakan simulasi dan tidak merepresentasikan kebutuhan riil harian.

Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail

Dadan menjelaskan bahwa simulasinya berdasarkan asumsi semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memasak serentak. Oleh karena itu, kondisi aktual dapat berbeda jauh dari angka yang disebutkan.

Simulasi Kebutuhan Daging Sapi

Dadan Hindayana menjelaskan bahwa perhitungan berkaitan dengan daging sapi dilakukan melalui simulasi. Dalam satu kali proses memasak, satu SPPG dapat memerlukan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi.

Ia menyatakan, 'Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor.' Pernyataan ini menunjukkan bahwa jika semua SPPG diminta untuk memasak daging sapi, total kebutuhan bisa mencapai angka 19.000 ekor.

Dadan menekankan bahwa satu ekor sapi cukup untuk memenuhi kebutuhan daging pada satu kali masak di SPPG. 'Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram.'

Baca juga: Transformasi Kamar Kecil Menjadi Ruang Cozy dengan Trik Sederhana

Pendekatan Menu Fleksibel

Menurut Dadan, BGN menghindari penerapan menu seragam secara nasional untuk mencegah lonjakan permintaan bahan pangan yang dapat berpengaruh pada harga. Ia memberikan contoh ketika peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto yang menu yang disajikan seperti nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

'Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton,' ujarnya. Akibatnya, harga telur mengalami kenaikan sebesar Rp3.000. Dari pengalaman tersebut, strategi BGN berfokus pada pendekatan yang lebih fleksibel.

Dengan cara ini, BGN berharap dapat menghindari dampak negatif pada pasar dan memastikan akses yang lebih baik bagi masyarakat terhadap bahan pangan.

Memberdayakan Sumber Daya Lokal

Dadan menekankan pentingnya memberdayakan sumber daya lokal dalam menjaga stabilitas kebutuhan. 'Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal,' jelasnya.

Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap suplai bahan pangan dan menjaga harga tetap stabil. Dadan mengisyaratkan agar menu disesuaikan dengan preferensi lokal masyarakat.

Dengan pendekatan berbasis sumber daya dan kebutuhan masyarakat, BGN ingin menciptakan solusi gizi yang berkelanjutan serta tidak membebani ekonomi masyarakat.

Baca juga: Sherina Munaf Menyelamatkan Kucing di Tengah Kontroversi Perampokan Rumah Uya Kuya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Klarifikasi BGN Terkait Kebutuhan Sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!