Iran Tegaskan Penolakan Negosiasi di Bawah Ancaman AS
Iran menegaskan penolakannya untuk melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat, akibat tekanan dan ancaman yang terus membayangi. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa negosiasi seharusnya berlangsung tanpa kebijakan intimidasi.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kritik yang tajam diarahkan kepada Presiden AS Donald Trump, yang dianggap berusaha memaksakan perubahan dalam proses diplomasi dengan ancaman yang diberikannya. Ghalibaf memperingatkan bahwa Iran tidak akan berkompromi dalam situasi ini.
Ghalibaf mengecam kebijakan Presiden Trump yang dianggap merugikan, terutama keputusan untuk melakukan blokade di Selat Hormuz. Menurut Ghalibaf, tindakan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata yang harusnya ditegakkan.
Ia menambahkan bahwa ancaman dari AS berupaya menjadikan perundingan sebagai 'meja penyerahan diri dan untuk membenarkan perang'. Pernyataan ini jelas menunjukkan komitmen Iran untuk mempertahankan posisinya.
Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran mempersiapkan opsi militer baru jika gencatan senjata yang dimediasi Pakistan berakhir. Ini mencerminkan kewaspadaan Iran terhadap kemungkinan eskalasi yang bisa terjadi.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Situasi Pulih
AS terus melanjutkan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal yang beroperasi di pelabuhan Iran. Tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah dibangun sebelumnya.
Walaupun Iran sempat mengumumkan pembukaan Selat Hormuz untuk lalu lintas maritim pada hari Jumat, situasi berubah drastis pada hari Sabtu dengan keputusan untuk membatasi pergerakan kapal. Ini menandakan ketidakpastian yang melanda kawasan tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa AS belum memenuhi kewajibannya, menambah ketegangan di tengah situasi yang sudah kritis.
Pakistan baru-baru ini menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi antara perwakilan AS dan Iran pada 11-12 April. Momen ini menandai percikan harapan dalam hubungan diplomatik yang telah terputus sejak 1979.
Namun, meskipun pertemuan tersebut merupakan langkah awal, tidak ada hasil signifikan yang dicapai. Hal ini menunjukkan tantangan besar dalam mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak.
Pernyataan Trump mengenai pengiriman perwakilan AS ke Islamabad dilakukan tanpa adanya jaminan keikutsertaan dari pihak Iran, yang menunjukkan keraguan Tehran terkait komitmen AS dalam negosiasi.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: