Iran Siap Hadapi Ancaman Invasif dari AS dan Israel
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan kesiapan negaranya untuk menghadapi ancaman invasi darat dari Amerika Serikat dan Israel. Dalam wawancara eksklusif di Teheran, ia menegaskan keyakinan Iran dalam mempertahankan kedaulatan.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan
Araghchi menekankan bahwa negara tersebut tidak merasa terancam dan siap menghadapi segala agresi yang diarahkan pada mereka. "Kami menunggu mereka," ujarnya, menambahkan bahwa invasi tersebut akan membawa bencana bagi pihak AS.
Dalam wawancara dengan NBC News, Araghchi mengungkapkan keyakinan bahwa angkatan bersenjata Iran telah melakukan persiapan matang untuk menghadapi potensi serangan darat. "Kami yakin bahwa kami dapat menghadapi mereka," ungkapnya.
Ia juga menunjukkan bahwa Iran tidak berencana meminta gencatan senjata di tengah ketegangan yang marak. "Kami bahkan tidak meminta gencatan senjata pada saat itu," ia mengingat kembali konflik sebelumnya yang pernah terjadi.
Araghchi mengharapkan agar semua pihak memahami bahwa semangat juang rakyat Iran tetap kuat meskipun dalam kondisi sulit.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Karena Kondisi Jakarta yang Tidak Kondusif
Menteri Luar Negeri tersebut mengutuk serangan yang dilakukan oleh militer AS dan Israel yang menimpa sekolah di Minab, yang menewaskan 171 anak-anak. Ia menegaskan bahwa kedua negara tersebut harus bertanggung jawab atas tragedi ini.
"Inilah yang dikatakan militer kami. Jadi, entah AS atau Israel. Apa bedanya?" tanyanya, menyoroti pentingnya melindungi warga sipil dalam situasi konflik.
Araghchi menekankan bahwa tindakan agresi terhadap warga sipil menunjukkan ketidakberpihakan dan kekejaman dalam konflik bersenjata.
Araghchi mengungkapkan kekecewaannya terhadap proses negosiasi sebelumnya, yang menurutnya mengalami pengkhianatan berulang oleh pemerintah AS. Ia jelas mengekspresikan ketidakpercayaan terhadap negosiasi dengan pemerintah AS saat ini, menunjukkan bahwa "Faktanya adalah kami tidak memiliki pengalaman positif dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat, terutama dengan pemerintahan ini."
Ia menambahkan bahwa tidak ada gunanya terlibat kembali dengan pihak yang bernegosiasi dengan itikad buruk, dan pentingnya prinsip dalam setiap pembicaraan.
Negosiasi dengan dasar ketidakpercayaan hanya akan menambah ketegangan, menurutnya.
Baca juga: Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Selama Hampir 7 Jam Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: