Badai Matahari dan Gempa Bumi: Sebuah Penelitian yang Memicu Kontroversi
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam International Journal of Plasma Environmental Science menyatakan bahwa badai Matahari mungkin dapat memicu terjadinya gempa bumi di Bumi.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Anggota Mulai 2025, Ini Tuntutan Masyarakat
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perubahan di ionosfer dapat memengaruhi kondisi di zona patahan yang sudah rentan.
Dalam studi ini, para peneliti berargumen bahwa badai Matahari dapat mengganggu ionosfer, yaitu lapisan atmosfer yang dipenuhi dengan partikel bermuatan listrik.
Gangguan yang terjadi diduga menyebabkan ketidakstabilan pada garis patahan di mana gempa bumi berpotensi terjadi, memunculkan pertanyaan baru tentang hubungan antara cuaca antariksa dan geologi.
Peneliti juga mengklaim bahwa perubahan di ionosfer dapat meningkatkan gaya listrik di dalam kerak Bumi, dan jika hubungan ini terbukti, hasil ini dapat mengubah pemahaman ilmiah saat ini mengenai risiko gempa bumi.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Namun, tidak semua ilmuwan setuju dengan temuan ini. Beberapa peneliti menganggap bahwa model yang digunakan dalam studi ini terlalu disederhanakan, tidak mencerminkan kompleksitas geologi yang sebenarnya.
Victor Novikov, seorang geofisikawan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, mengungkapkan bahwa data yang ada tidak mendukung ide yang dikemukakan dalam penelitian ini.
Ia menilai bahwa model yang diterapkan tidak memperhitungkan resistansi lapisan batuan yang dapat menahan medan listrik, sehingga memunculkan keraguan terhadap akurasi penelitian.
Penelitian ini berusaha untuk menggali lebih dalam mengenai hubungan antara aktivitas solar dan kemunculan gempa bumi tertentu, misalnya, gempa yang terjadi di Semenanjung Noto pada tahun 2024 bertepatan dengan aktivitas letusan Matahari yang tinggi.
Walaupun banyak ilmuwan meragukan hubungan ini, studi lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi potensi hubungan yang lebih dalam antara cuaca antariksa dan fenomena geologi.
Sikap skeptis dan kebutuhan akan penelitian lanjutan menandakan bahwa meski temuan ini kontroversial, namun tetap membuka celah untuk penelitian lebih lanjut di masa mendatang.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: