Perjanjian Baru AS-Indonesia: Peluang Ekonomi Meluas untuk Sektor Pertanian dan Digital
Perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat yang baru menyaingi tarif resiprokal telah menarik perhatian positif dari para pelaku usaha di kedua negara.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Situasi Pulih
Dengan penghapusan tarif lebih dari 99% produk AS, kesepakatan ini diharapkan bisa menguatkan kemitraan ekonomi dan memberikan peluang baru bagi pasar kedua negara.
Para pelaku usaha di sektor pertanian dan peternakan memberikan sambutan hangat terhadap perjanjian ini. Gregg Doud, Presiden dan CEO National Milk Producers Federation, menyatakan, "Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia dan merupakan pasar yang sangat penting bagi peternak sapi perah AS."
Krysta Harden, Presiden dan CEO US Dairy Export Council, menambahkan bahwa kesepakatan ini dapat memperkuat hubungan dengan pemerintah dan industri susu Indonesia, sekaligus mendukung tujuan gizi di negara ini.
Gene Copenhaver, Presiden National Cattlemen's Beef Association (NCBA), juga menyuarakan rasa syukurnya terhadap kesepakatan ini, yang diyakini akan memberikan keuntungan signifikan bagi produsen daging di AS.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation: Tuduhan Provokasi Anarkis
Industri energi di AS bergerak maju berkat perjanjian ini, seperti yang diungkapkan oleh Emily Skor, CEO Growth Energy. Ia menjelaskan bahwa penerapan campuran etanol 10% di seluruh negeri dapat membuka pasar baru hingga 900 juta galon bagi produsen dan petani di AS.
Geoff Cooper, Presiden dan CEO Renewable Fuels Association, menegaskan bahwa Indonesia sudah menjadi pasar prioritas untuk etanol AS, dengan permintaan yang sangat potensial.
Di sisi lain, kebijakan perdagangan digital juga mendapat perhatian besar, menurut Aaron Cooper, Wakil Presiden Senior Kebijakan Global Business Software Alliance, yang menyebut bahwa kesepakatan ini mendukung akses digital dan mempercepat adopsi teknologi.
Beberapa asosiasi di AS turut menunjukkan dukungan terhadap perjanjian ini. Mark Powers, Presiden Northwest Horticultural Council, menekankan pentingnya investasi yang dilakukan dalam kesepakatan ini untuk masa depan perdagangan.
Global Data Alliance menegaskan bahwa kesepakatan ini berhasil mereformasi hubungan digital antara AS-Indonesia, menghilangkan banyak hambatan dalam perdagangan yang sebelumnya merugikan kerja sama bilateral.
Secara keseluruhan, perjanjian perdagangan ini diharapkan bisa memberi dampak yang luas dan signifikan bagi akses pasar pelaku usaha di berbagai sektor di dua negara.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: