Kejadian Tragis di NTT: Pengingat akan Pentingnya Perlindungan Anak
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, baru-baru ini menyoroti sebuah tragedi memilukan yang terjadi di Kecamatan Jerebuu, Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana seorang siswa kelas IV SD meninggal dunia akibat gantung diri.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Peristiwa ini menjadi panggilan untuk seluruh pihak agar memberikan perhatian lebih kepada perlindungan anak dari berbagai tekanan yang tidak seharusnya mereka hadapi.
Hetifah Sjaifudian menegaskan pentingnya perlindungan bagi anak berusia 10 tahun, yang seharusnya mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar.
Ia menyatakan, 'Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat.' Menurutnya, anak-anak seharusnya tidak merasa putus asa hanya karena masalah yang sepele seperti akses terhadap buku dan alat belajar.
Kasus ini menunjukkan perlunya revisi dalam sistem pendidikan dan perlindungan sosial saat ini. Pendidikan dasar, menurutnya, seharusnya benar-benar gratis dan inklusif agar semua anak, termasuk mereka dari keluarga kurang mampu, mendapatkan hak mereka.
“Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin. Ke depan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis, termasuk perlengkapan belajar,” ujarnya.
Dalam proses evakuasi, polisi menemukan sepucuk surat dari YBR (10) yang mencerminkan rasa kecewa yang mendalam kepada ibunya. Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa dan berisi ungkapan perpisahan.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Senne Lammens
YBR mengungkapkan perasaan sedihnya dan menyebut ibunya sebagai 'pelit'. Salah satu bagian dari surat tersebut berbunyi, 'Mama Galo Zee (Mama pelit sekali),'
Meskipun penyebab pasti kekecewaan YBR belum dikonfirmasi, terdapat kabar bahwa ia merasa kecewa akibat tidak dibelikan buku tulis oleh ibunya.
Surat ini menjadi gambaran tentang tekanan yang dihadapi anak-anak yang mungkin dianggap sepele oleh orang dewasa.
Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, mengkonfirmasi penemuan surat tersebut dan menjelaskan bahwa penyelidikan akan terus berlanjut. 'Masih pendalaman,' ungkapnya.
Menanggapi tragedi ini, respons dari masyarakat dan pihak berwenang diharapkan dapat mencegah kejadian serupa di masa depan. Perhatian dan kepedulian sosial sangat penting, terutama untuk anak-anak yang berada dalam situasi sulit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: