BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Kamis, 22 JANUARI 2026 • 17:25 WIB

Curah Hujan Tinggi di Jabodetabek: Analisis Cuaca Lebat oleh BRIN

Curah Hujan Tinggi di Jabodetabek: Analisis Cuaca Lebat oleh BRINCurah Hujan Tinggi di Jabodetabek: Analisis Cuaca Lebat oleh BRIN

Hujan deras melanda Jabodetabek pada pagi hari ini, Kamis (22/1/2026), menyebabkan genangan air di sejumlah titik. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa hujan kali ini diperkirakan berasal dari laut.

Baca juga: Unisba dan Unpas Tegaskan Tidak Ada Aparat TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan

Dalam cuitan yang dibagikannya, Erma menekankan pentingnya memahami fenomena ini, yang menunjukkan adanya sistem pembentukan hujan di laut yang kemudian berdampak ke daratan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan tentang potensi hujan lebat dalam beberapa hari ke depan.

Asal Usul Hujan dari Laut

Erma Yulihastin dari BRIN menyatakan, "Mudah saja niteni-nya (mengamatinya), kalau pagi-pagi sudah hujan dan deras bukan gerimis, itu artinya hujan yang terjadi berasal dari laut bukan darat." Hal ini menunjukkan pola cuaca yang berbeda, di mana biasanya hujan di darat terjadi setelah jam 12 siang.

Ia juga menambahkan, "Jadi mesti curiga, ada apa di laut kok bisa kirim hujan ke darat?" Pernyataan ini menyoroti pentingnya pengamatan lebih lanjut mengenai kondisi di laut yang dapat memengaruhi cuaca di daratan.

Dalam analisisnya, Erma membagikan tangkapan layar dari situs zoom.earth sebagai rujukan untuk memperjelas pola pembentukan cuaca yang sedang terjadi.

Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail

Peringatan Cuaca Ekstrem oleh BMKG

BMKG telah merilis peringatan tentang potensi hujan lebat dan ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, yang berlaku hingga 26 Januari 2026. Ini diingatkan mengingat fenomena cuaca ekstrem yang bisa terjadi kapan saja.

Dalam laporan cuaca mingguan yang dirilis pada 19 Januari 2026, BMKG menyebutkan bahwa faktor penyebab cuaca ekstrem diantaranya adalah sirkulasi siklonik dan penguatan monsun dingin dari Asia. Hal ini meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap perubahan cuaca.

Siklon Tropis Nokaen menunjukkan penguatan dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa, yang mempengaruhi pola angin di utara Indonesia. Situasi ini meningkatkan potensi terbentuknya cuaca ekstrem di wilayah tersebut.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Cuaca

BMKG mencatat ada potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia, berkat tekanan udara tinggi di Gushi. Kondisi ini memungkinkan monsun Asia untuk menembus ekuator melalui Selat Karimata.

Ketidakpastian dalam siklus cuaca di Pulau Jawa dan Sumatera Selatan semakin terlihat. Hal ini perlu menjadi perhatian serius agar masyarakat dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan akibat perubahan cuaca yang ekstrem.

Dengan kondisi yang dinamis, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada menghadapi potensi bencana yang dapat muncul akibat hujan lebat yang berkelanjutan.

Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Karena Kondisi Jakarta yang Tidak Kondusif

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Curah Hujan Tinggi di Jabodetabek: Analisis Cuaca Lebat oleh BRIN

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!