Proses Evakuasi Jenazah Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Melalui Jalur Darat
Satu jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 ditemukan di jurang sedalam 200 meter dan akan dievakuasi melalui jalur darat. Keputusan ini diambil karena cuaca buruk membuat evakuasi dengan helikopter tidak mungkin dilakukan.
Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor, WFH Dicatat
Kasi Operasional Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa rute evakuasi melalui daratan sangat menantang dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai ke lokasi. Tim evakuasi melakukan persiapan ekstra demi keselamatan semua anggota.
Andi Sultan menjelaskan bahwa medan evakuasi sangat ekstrem, sehingga memakan waktu cukup lama untuk mencapai lokasi. "Memang cukup jauh ada beberapa jam baru bisa dengan medan yang ekstrem untuk melakukan sampai ke tempat," ungkapnya.
Keputusan untuk mengambil jalur darat diambil dengan mempertimbangkan keselamatan tim evakuasi dan medan yang sulit dilalui. Persiapan yang matang menjadi hal yang sangat penting agar seluruh anggota tim dapat menjaga keselamatan mereka selama proses evakuasi.
Meskipun lebih kompleks, Andi memastikan bahwa tim Basarnas akan tetap bertugas secara optimal untuk mengangkat jenazah dan melanjutkan pencarian anggota lainnya.
Baca juga: Drama Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dan Pergerakan Tim Lain
Selain mengevakuasi jenazah, Basarnas juga berencana untuk memperluas area pencarian demi menemukan serpihan pesawat lainnya. "Iya, kalau itu sudah pasti memperluas wilayah yang kemarin kita sudah sisir, akan digeser untuk diperluas," tegas Andi.
Operasi pencarian melibatkan berbagai tim gabungan yang dikerahkan ke lokasi-lokasi sekitar kecelakaan. Upaya ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih jelas terkait dengan keberadaan pesawat dan kemungkinan adanya korban lain.
Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh area di sekitar lokasi kecelakaan telah diperiksa dengan seksama untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penyebab dan aftermath dari kecelakaan tersebut.
Kondisi cuaca yang buruk menjadi faktor signifikatif dalam menjalankan operasi pencarian dan evakuasi. Angin kencang dan hujan deras membuat jalur udara tidak dapat digunakan sama sekali, jelas Andi Sultan.
Meskipun jalur darat memberikan tantangan tersendiri, tim Basarnas tetap berkomitmen untuk melaksanakan tugas mereka dengan sebaik-baiknya. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menemukan dan mengevakuasi jenazah lainnya.
Keselamatan tim merupakan prioritas utama, dan segala tindakan akan dilakukan dengan perhatian serta perencanaan yang seksama untuk memastikan keberhasilan misi ini.
Baca juga: Korea Selatan U-23 Siap Tantang Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: