Bagaimana Foto AI Mengubah Narasi Penangkapan Presiden Maduro di Media Sosial
Baru-baru ini, foto-foto yang di klaim menunjukkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menjadi viral di media sosial, banyak diantaranya ternyata hasil karya kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini menyusul pengumuman serangan oleh mantan Presiden AS Donald Trump terhadap Venezuela pada awal Januari 2026.
Baca juga: Kritik Terhadap Penangkapan Direktur Lokataru: Komnas HAM dan DPR Suarakan Kepedulian
Media sosial pun dipenuhi dengan informasi yang menyesatkan, mendorong kebingungan di kalangan netizen. Penyebaran konten oleh influencer dan pejabat semakin memperburuk situasi ini.
Setelah pengumuman serangan dari Trump, banyak gambar yang menunjukkan Maduro digiring oleh agen penegak hukum AS menjadi viral. Video-video yang seolah-olah menampilkan konfrontasi antara rakyat Venezuela dan pemerintah pun turut beredar di platform tersebut.
The Guardian melaporkan bahwa banyak gambar tidak terverifikasi dan realitas dengan konten palsu campur aduk, membuat publik kesulitan untuk membedakan mana yang faktual. 'Ketidakpastian informasi yang terverifikasi dalam serangan tersebut membuat publik semakin bingung,' ungkap mereka.
Di platform media sosial, foto-foto hasil AI telah mendapatkan ratusan ribu tampilan. Meski adanya alat deteksi palsu, akurasi dari alat-alat tersebut sering kali dipertanyakan.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan di Layanan Gmail
Salah satu yang mencolok adalah unggahan Wali Kota Coral Gables, Vince Lago, yang membagikan gambar palsu Maduro di kawal agen DEA. Dalam keterangan, Lago menyebut Maduro sebagai 'pemimpin organisasi narco-teroris yang mengancam negara kita.'
Post-nya berhasil mendapatkan lebih dari 1.500 likes, menunjukkan betapa cepatnya konten palsu tersebar melalui akun-akun berpengaruh. Ini menggambarkan betapa berbahayanya informasi yang tidak benar dalam pengaruh publik.
Sofia Rubinson, editor senior NewsGuard, menjelaskan bahwa kualitas gambar AI kini hampir tidak dapat dibedakan dari kenyataan. 'Banyak visual yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan kerap membanjiri media sosial dengan fakta yang tidak sesuai,' terangnya.
Laporan dari NewsGuard menunjukkan kehadiran beberapa foto dan video menyesatkan berkaitan dengan operasi militer di Venezuela. Misalnya, video yang menampilkan helikopter pasukan khusus AS ternyata diambil dari lokasi yang tidak sesuai dengan waktu kejadian.
Kronologi penyebaran informasi menunjukkan bahwa gambar dari tahun-tahun sebelumnya digunakan untuk mendukung narasi saat ini. Influencer dari sayap kanan pun menyebarkan video yang menunjukkan kerumunan merayakan penggulingan Maduro, yang sesungguhnya adalah rekaman dari tahun sebelumnya.
Sementara alat moderasi berbasis crowdsourcing mengungkapkan bahwa video itu digunakan dengan keliru untuk menggambarkan situasi saat ini. 'Sumber saat ini tidak menunjukkan adanya perayaan semacam itu di Caracas hari ini,' ungkap chatbot AI Grok.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio: Polisi Komitmen Ungkap Pelaku
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: