Fenomena 'Seen' dalam Komunikasi Digital: Apa yang Terjadi Sebenarnya?
Saat ini, fenomena 'seen tapi nggak dibales' menjadi hal yang biasa dijumpai di kalangan pengguna aplikasi pesan. Perilaku ini meninggalkan pertanyaan besar tentang kenapa hal ini bisa dianggap normal dalam interaksi sehari-hari.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Perjuangan Masyarakat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 60% pengguna smartphone mengalami situasi, di mana pesan yang telah dibaca tidak mendapatkan balasan. Ini bukan sekadar masalah individu, tetapi juga merefleksikan dinamika sosial yang lebih luas.
Di era digital yang semakin maju, cara kita berkomunikasi mengalami perubahan signifikan. Aplikasi pesan instan mempermudah interaksi, tetapi sering kali menciptakan jarak emosional di antara penggunanya.
Banyak individu lebih memilih untuk 'seen' tanpa mengharuskan diri membalas, sikap ini dapat dilihat sebagai penghindaran dari kewajiban atau ketidaknyamanan dalam merespons.
Dr. Andi Prabowo, seorang pakar komunikasi, mengungkapkan bahwa perilaku ini berakar dari tekanan sosial. Individu ingin menjalani komunikasi yang mudah tanpa merasa terbebani untuk menjawab.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan
Perilaku 'seen tapi nggak dibales' berdampak signifikan pada kesehatan mental individu. Banyak penerima pesan merasakan kecemasan atau kekecewaan ketika pesan mereka tidak direspons.
Dr. Maria Setiawati, seorang psikolog, menjelaskan, "Keterasingan dalam komunikasi digital ini dapat menimbulkan dampak psikologis yang cukup serius, termasuk rasa tidak dihargai."
Jika kondisi ini terus berlanjut, relasi personal bisa semakin renggang, dan banyak yang menjadi bingung tentang makna dari interaksi tersebut.
Terdapat beberapa faktor di balik meningkatnya budaya 'seen tapi nggak dibales'. Salah satunya adalah jumlah informasi yang berlebihan, di mana banyaknya pesan membuat orang merasa kewalahan untuk merespons.
Pergeseran nilai dalam komunikasi juga sangat berperan. Survei terbaru menunjukkan bahwa 72% responden merasa lebih nyaman mengabaikan pesan ketika mereka merasa sibuk.
Lingkungan sosial yang semakin menerima fenomena ini juga memperkuat legitimasi perilaku tersebut sebagai norma baru.
Baca juga: Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Selama Hampir 7 Jam Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: