Kapal Perang Baru AS: 'Trump Class' Siap Ubah Peta Pertahanan Laut
Produksi kapal perang terbaru Amerika Serikat bernama 'Trump Class' telah diumumkan oleh Presiden Donald Trump, menandakan langkah strategis dalam persaingan pertahanan global.
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Dengan bobot antara 30.000 hingga 40.000 ton, kapal ini disebut-sebut sebagai salah satu kapal perang permukaan paling mematikan yang pernah ada.
Kapal Trump Class didesain dengan bobot lebih dari 35.000 ton, memberikan stabilitas dan kapasitas muatan yang melebihi kapal perusak Arleigh Burke.
Kapal ini akan dilengkapi dengan lebih dari 12 tabung misil Conventional Prompt Strike (CPS) yang memungkinkan serangan global yang cepat dan efisien.
Keunggulan lain yang mencolok adalah kapasitas persenjataan dengan lebih dari 128 unit, termasuk Tomahawk, SM-6, dan jenis baru SLCM-N dengan opsi nuklir.
Dengan adanya sistem railgun battery 32 megajoule (MJ), kapal ini pun mampu melakukan serangan jarak jauh yang lebih efektif.
Dari sisi operasi, kapal Trump Class bisa beroperasi sendirian atau bergabung dalam Carrier Strike Group, memberikan fleksibilitas dalam berbagai misi.
Baca juga: Inovasi Dolby Vision 2: Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Angkatan Laut AS menyatakan kapal ini akan menjadi bagian krusial dalam menjalankan Konsep Pertempuran Angkatan Laut.
'Dengan kemampuan memberikan komando ke depan untuk platform berawak dan tak berawak, kapal ini memiliki peran krusial dalam menjaga kepentingan nasional,' ujar perwakilan dari Golden Fleet.
Desain dan spesifikasi kapal memperlihatkan inovasi luar biasa dalam desain militer, menjadikannya siap menghadapi ancaman strategis global.
Peluncuran kapal ini menarik perhatian pengamat militer internasional, terutama dalam konteks persaingan dengan pengaruh Cina yang kian kuat.
Ketika ditanya tentang tujuan spesifik terhadap China, Trump menghindar dari pernyataan langsung, mengatakan, 'Kapal ini akan menjadi penangkal bagi semua pihak, bukan hanya China.'
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: