Mengungkap Sumber Utama Kredit Nganggur yang Capai Rp2.500 Triliun
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa kredit yang belum disalurkan perbankan telah mencapai angka fantastis, Rp2.500 triliun hingga November 2025. Ketidakpastian ekonomi menjadi alasan utama mengapa banyak korporasi dan rumah tangga enggan meminjam dana.
Baca juga: Korea Selatan U-23 Siap Tantang Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2026
Dalam penjelasannya, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M. Juhro, menyatakan bahwa permintaan kredit masih jauh dari harapan, dengan perusahaan lebih memilih menggunakan dana internal daripada melotot ke bank.
Saat ini, para pelaku usaha berada di posisi 'wait and see' terkait dengan kondisi ekonomi yang belum stabil. "Mereka masih wah ini ekonominya benar menggeliat enggak?" ungkap Solikin M. Juhro saat memberikan keterangan pers di kantor BI di Jakarta.
Dalam situasi seperti ini, banyak korporasi lebih memilih mengandalkan simpanan internal ketimbang mencari pinjaman bank. Kekhawatiran akan bunga tinggi di pasar menjadi salah satu alasan mengapa keputusan tersebut diambil.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengguncang Bursa
Kondisi ketidakpastian juga turut mempengaruhi pengeluaran rumah tangga, yang biasanya dapat mengambil kredit konsumsi. Menurut Solikin, ekspektasi tentang kenaikan pendapatan membuat banyak rumah tangga ragu untuk meminjam. "Rumah tangga kan bisa melakukan kredit, dari kredit konsumsi," tegasnya.
Keadaan ini membuat banyak rumah tangga menunda pengambilan kredit konsumsi, yang sebenarnya sangat penting untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengamati bahwa meski terdapat kredit yang masih terbengkalai, terdapat indikasi bahwa pertumbuhan kredit yang kuat bisa menjadi sinyal untuk ekpansi di masa mendatang. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan pentingnya kepastian dalam mendorong pencairan kredit.
"Dalam hal kondisi ekonomi membaik dan kepercayaan pelaku usaha meningkat, maka pencairan kredit dapat meningkat dan mendorong pertumbuhan sektor riil," ujarnya. OJK pun berkomitmen menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui kolaborasi yang lebih baik.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Menjadi Panduan Utama Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: