Risiko Gempa Megathrust di Indonesia: Wawasan Penting dari Prof. Kosuke Heki
Perhatian dunia ilmiah kini tertuju pada risiko gempa megathrust yang mengancam Indonesia. Penjelasan dari Prof. Kosuke Heki dari Universitas Hokkaido memberikan wawasan penting mengenai ancaman dan langkah mitigasi yang perlu diambil.
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Melalui penelitiannya, Heki menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang dan pemahaman mendalam terkait posisi seismik di daerah rawan gempa di Indonesia, serta dampaknya pada mitigasi bencana.
Komunitas ilmiah global semakin menggarisbawahi potensi gempa megathrust di Indonesia. Data terbaru dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia menunjukkan ada 14 zona megathrust dengan potensi menghasilkan gempa besar.
Zona-zona ini termasuk Megathrust Jawa, Aceh-Andaman, dan Nias-Simelue, dan diperkirakan dapat memicu gempa berkekuatan tinggi. Seiring berjalannya waktu, pemahaman mengenai siklus dan perilaku gempa menjadi sangat krusial dalam usaha mitigasi bencana.
Heki menyatakan bahwa gempa berkekuatan 8 bisa terjadi dalam interval lebih singkat, berkisar antara 50 hingga 100 tahun. 'Kami memahami bahwa potensi gempa besar tetap menjadi perhatian serius, meski waktu pastinya sulit diprediksi,' ucap Heki.
Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor, WFH Dicatat
Teknologi memainkan peran kunci dalam mendeteksi pergerakan kerak bumi yang dapat memicu bencana. Dengan memanfaatkan Global Navigation Satellite System (GNSS), pengamatan deformasi dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Heki menegaskan, 'Dengan kombinasi data GNSS di darat dan teknologi geodesi dasar laut, kita dapat mulai memetakan akumulasi tegangan. Ini penting untuk memprediksi kemungkinan gempa besar di masa depan.'
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat memberikan informasi dini tentang pergeseran geologi, membantu upaya mitigasi sebelum terjadinya bencana.
Salah satu fenomena yang dapat menjadi indikator menjelang terjadinya gempa besar adalah slow slip event (SSE). Menurut Heki, 'Meskipun gerakannya kecil, SSE dapat memberi petunjuk penting sebelum terjadinya gempa besar.'
Fenomena ini telah teramati di jalur Nankai dan berpotensi menjadi pemicu gempa besar. Hal ini menunjukkan bahwa observasi terhadap SSE dapat berkontribusi pada upaya mitigasi.
Survei terbaru menunjukkan bahwa pengumpulan data mengenai pergerakan geologi perlu ditingkatkan untuk adaptasi terhadap ancaman gempa di Indonesia.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio: Polisi Komitmen Ungkap Pelaku
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: