Ketegangan Perbatasan antara Thailand dan Kamboja: Dampak dan Upaya Diplomasi
Kembali muncul konflik antara Thailand dan Kamboja, dengan pertempuran yang meletus sejak 8 Desember 2025. Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan rencananya untuk melibatkan diri dalam menjembatani ketegangan ini.
Baca juga: Korea Selatan U-23 Siap Tantang Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2026
Dalam konferensi pers di Pennsylvania, Trump menekankan perlunya intervensi agar eskalasi tidak semakin parah. Ketegangan ini sudah mengakibatkan ratusan ribu warga di kedua negara terpaksa mengungsi.
Konflik antara Thailand dan Kamboja memasuki hari ketiga, dengan laporan bahwa Kamboja meluncurkan roket BM-21 yang mengenai area dekat Rumah Sakit Phanom Dong Rak di Provinsi Surin, Thailand. Serangan ini mendorong pasien dan staf rumah sakit untuk mencari perlindungan.
Sejak pertempuran ini dimulai, lebih dari 400.000 warga Thailand yang tinggal di sepanjang perbatasan telah dievakuasi. Di sisi Kamboja, ada lebih dari 21.000 pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Kementerian Pertahanan Kamboja melaporkan sembilan warga sipil tewas dan 20 lainnya terluka parah. Otoritas Thailand juga melaporkan bahwa empat tentara tewas dan 68 mengalami luka-luka dalam baku tembak.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Menyusul ketegangan ini, Kementerian Luar Negeri Thailand mengeluarkan pernyataan tegas bahwa tidak ada peluang untuk negosiasi saat ini. Mereka menilai situasi yang ada tidak mendukung mediasi oleh pihak ketiga.
Sebaliknya, penasihat utama Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, mengungkapkan bahwa mereka 'siap untuk berunding kapan pun'. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian pandangan antara kedua negara dalam hal resolusi konflik.
Konflik ini dimulai setelah seorang tentara Thailand tewas dalam baku tembak, yang menyebabkan Thailand menuduh Kamboja sebagai pihak yang memicu serangan, sementara Kamboja balik menuduh Thailand sebagai provokator.
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja bukanlah isu baru. Perang yang terjadi pada Juli lalu juga menewaskan banyak orang dan membuat sekitar 300.000 orang terpaksa mengungsi dari rumahnya.
Setelah pertempuran itu, kedua negara sempat menandatangani perjanjian damai di Kuala Lumpur pada bulan Oktober, dipengaruhi oleh tekanan dari Trump dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Namun, meski ada kesepakatan gencatan senjata, konflik tetap berkepanjangan.
Sejak pertempuran sebelumnya, kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan damai yang telah dimediasi. Hal ini semakin memperumit upaya menuju perdamaian di kawasan tersebut.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Menjadi Panduan Utama Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: