Banjir dan Longsor di Sumatera Utara: Meningkatnya Kasus Penyakit di Kalangan Pengungsi
Ribuan pengungsi akibat banjir dan longsor di Sumatera Utara kini menghadapi risiko kesehatan yang serius, termasuk penyakit kulit dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hingga 7 Desember 2025, tercatat 6.433 kasus penyakit kulit dan 5.151 kasus ISPA di kalangan pengungsi.
Baca juga: Inovasi Dolby Vision 2: Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Kondisi di posko pengungsian sangat memprihatinkan, dengan faktor lingkungan yang memperburuk keadaan. Data ini menunjukkan perlunya perhatian dan tindakan cepat untuk mencegah perkembangan lebih lanjut dari penyakit ini.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rijal Lubis, melaporkan bahwa situasi di posko pengungsian sangat memprihatinkan. Para pengungsi yang terpapar dengan penyakit berbasis lingkungan menjadi fokus utama perhatian pemerintah.
Dengan total 6.433 kasus penyakit kulit dan 5.151 kasus ISPA sampai pukul 13.00 WIB pada 7 Desember 2025, dampak bencana ini terlihat begitu jelas di tengah kondisi sulit yang harus dihadapi.
Hamid juga mengingatkan bahwa banyaknya penghuni di lokasi pengungsian semakin memperburuk sanitasi dan kesehatan mereka. 'Kondisi ini sangat berbahaya dan perlu perhatian mendesak,' tegasnya.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Pertama Campuran AS-Indonesia di MLS
Hamid mengungkapkan bahwa jika tindakan pencegahan tidak segera diambil, perkembangan penyakit yang mencapai tingkat kejadian luar biasa sangat mungkin terjadi. 'Paparan air kotor dan sanitasi lingkungan yang menurun menjadi penyebab utama,' katanya.
Selain ISPA dan penyakit kulit, laporan terbaru menunjukkan bahwa ada 1.065 kasus diare dan 755 kasus Influenza Like Illness (ILI) di kalangan pengungsi. Ini menunjukkan bahwa risiko infeksi saluran cerna semakin meningkat di tengah situasi darurat.
Dengan kondisi yang ada, risiko kesehatan pengungsi berada dalam keadaan kritis, yang membuat intervensi dari lembaga kesehatan sangat diperlukan.
Untuk menghadapi potensi peningkatan penyakit di masa depan, Dinas Kesehatan melaksanakan pemantauan kesehatan yang ketat. 'Peningkatan tempat perindukan nyamuk biasanya terjadi setelah air surut,' kata Hamid, mencatat pentingnya kewaspadaan ini.
Dinas Kesehatan juga mencatat dua kasus suspek campak di Kabupaten Deliserdang dan Tapanuli Tengah. Hal ini menunjukkan perlunya penelusuran dan pemeriksaan lebih jauh di lokasi-lokasi pengungsian, agar tidak terjadi penularan lebih lanjut.
Perhatian terhadap kesehatan masyarakat dalam situasi darurat seperti ini menjadi sangat krusial. Pihak berwenang diharapkan dapat segera mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko yang ada.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Tembakan Gas Air Mata dan Provokasi di Depan Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: