Mendalami Fenomena Soft Ghosting Di Era Digital
Soft ghosting semakin akrab di telinga kita, terutama di era digital ini. Situasi ini mencerminkan bagaimana orang menghindari komunikasi tanpa secara resmi memutuskan hubungan.
Baca juga: Inovasi Dolby Vision 2: Pengalaman Menonton yang Lebih Hidup
Ketika banyak orang merasa lebih nyaman untuk 'menghilang' daripada menghadapi konfrontasi, dampaknya bisa signifikan baik bagi yang melakukan maupun yang mengalami.
Soft ghosting berbeda dari ghosting yang lebih tegas; dalam ghosting, semua komunikasi dihentikan tanpa penjelasan. Sebaliknya, soft ghosting melibatkan respons yang minim dan tidak konsisten.
Contoh dari soft ghosting adalah ketika seseorang membalas pesan dengan singkat tanpa melanjutkan percakapan lebih dalam. Tindakan ini dapat menciptakan kebingungan bagi orang yang mencoba menjalin komunikasi.
Fenomena ini lebih sering terjadi di aplikasi chatting dan media sosial, di mana orang bisa 'hilang' tanpa harus menghadapi konsekuensi langsung dari tindakan mereka. Ini memberi rasa aman karena mereka tidak perlu berhadapan dengan perasaan orang lain.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dikonfirmasi dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Banyak faktor yang mengarah pada terjadinya soft ghosting, diantaranya adalah ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara jelas. Banyak individu merasa tidak nyaman untuk mengungkapkan perasaan mereka atau secara langsung mengakhiri hubungan.
Kecepatan perubahan situasi sosial juga menjadi alasan, di mana orang lebih memilih untuk menghindari diskusi sulit dan lebih memilih untuk mengurangi interaksi secara bertahap.
Dampak pandemi COVID-19 turut memengaruhi cara orang berkomunikasi. Banyak orang mengambil pendekatan yang lebih santai dan menghindari ketegangan dalam hubungan, yang bisa mendorong kebiasaan ketidakpastian.
Dampak soft ghosting tidak hanya dirasakan oleh yang menjadi 'korban', tetapi juga oleh yang melakukan. Rasa bersalah dan penyesalan sering kali muncul setelah menyadari bahwa tindakan tersebut membawa penderitaan bagi orang lain.
Bagi yang mengalami soft ghosting, kebingungan dan sakit hati bisa menjadi dampak utama akibat kurangnya kejelasan dalam komunikasi. Masalah kepercayaan pun berpotensi muncul dalam hubungan berikutnya.
Selain itu, soft ghosting dapat mengganggu kesehatan mental. Ketidakpastian dalam setiap interaksi sosial atau romantis dapat menjadi beban emosional yang berat dan mengecewakan.
Baca juga: Penjarahan di Rumah Politisi NasDem: Polisi Semakin Intensif Melakukan Penyelidikan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: