Kaitan antara Memelihara Kucing dan Risiko Skizofrenia: Temuan Baru dari Australia
Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan Mental Queensland, Australia mengungkapkan bahwa memelihara kucing mungkin berhubungan dengan peningkatan risiko skizofrenia.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Studi yang dipimpin oleh Psikiater John McGrath ini mencakup analisis terhadap 17 makalah dari 11 negara yang telah diterbitkan selama 44 tahun terakhir.
Penelitian mengenai hubungan kepemilikan kucing dengan risiko skizofrenia mulai dipertimbangkan sejak tahun 1995. Saat itu, parasit Toxoplasma gondii dianggap berpotensi menjadi penyebab risiko tersebut.
Namun, berbagai penelitian selanjutnya memberikan hasil yang beragam. Misalnya, penelitian yang diterbitkan di Cureus pada tahun 2022 menunjukkan bahwa berada di sekitar kucing saat masa kanak-kanak bisa meningkatkan risiko gangguan.
Di sisi lain, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Plos One pada tahun 2019 tidak menemukan adanya hubungan signifikan antara memelihara kucing dan risiko skizofrenia.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Siap Tantang Alcaraz
Toxoplasma gondii adalah parasit yang dapat ditularkan melalui daging yang kurang matang atau feses kucing yang terinfeksi. Menariknya, parasit ini dapat menginfeksi hingga sekitar 40 juta orang di Amerika Serikat.
Setelah masuk ke dalam tubuh, T. gondii diketahui dapat memengaruhi neurotransmiter dalam sistem saraf pusat. Pengaruh ini dikaitkan dengan perubahan kepribadian serta gejala psikotik, termasuk skizofrenia.
Walau begitu, penting untuk diingat bahwa hubungan ini belum bisa membuktikan secara langsung bahwa parasit tersebut menyebabkan perubahan mental, maupun bahwa infeksi secara spesifik berasal dari kucing.
Dari 17 penelitian yang dianalisis, mayoritasnya (15 penelitian) adalah studi kasus-kontrol. Jenis penelitian ini tidak mampu menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung dan cenderung mengabaikan beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi hasil.
Kualitas rendah dari beberapa studi pun membuktikan bahwa hasil yang didapat tidak konsisten. Sebagai contoh, hasil dari jurnal Plos One tahun 2019 menunjukkan hubungan signifikan hanya pada anak-anak berusia 9 hingga 12 tahun.
Contoh lain mencakup penelitian dari Schizophrenia Research pada tahun 2013 yang menyatakan tidak ada hubungan antara kepemilikan kucing dan skor skizotipi, meskipun individu yang pernah digigit kucing menunjukkan skor yang lebih tinggi.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengguncang Bursa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: