Krisis Kesehatan Global: Meningkatnya Kasus Gagal Ginjal di Seluruh Dunia
Krisis kesehatan yang signifikan sedang melanda dunia, terutama terkait dengan meningkatnya kasus gagal ginjal atau Chronic Kidney Disease (CKD). Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sekitar 788 juta orang dewasa hidup dengan penyakit ini.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Siap Tantang Alcaraz
CKD kini menempati peringkat kesembilan sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan 1,5 juta jiwa terpaksa kehilangan nyawa akibat kondisi ini. Ironisnya, lebih dari separuh penderita tidak menyadari adanya kerusakan pada ginjal mereka.
Sepanjang tiga dekade terakhir, peningkatan signifikan kasus CKD bukan hanya disebabkan oleh pertumbuhan populasi dan penuaan. Menurut data dari IHME, pola hidup modern, termasuk gula darah puasa tinggi, obesitas, dan hipertensi, menjadi faktor risiko utama yang memengaruhi kesehatan ginjal lintas kelompok usia.
Meskipun diabetes dan hipertensi adalah penyebab terbesar, CKD merupakan masalah yang dipengaruhi oleh pola makan, lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa banyak aspek kehidupan yang harus diperhatikan untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Di beberapa wilayah, terutama Amerika Tengah, terdapat tren terkait CKD of Unknown Etiology (CKDu) yang sering menyerang pekerja di perkebunan dengan kondisi dehidrasi kronis akibat suhu ekstrem. Fenomena ini menggarisbawahi pengaruh perubahan iklim terhadap kesehatan ginjal masyarakat.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia Dikonfirmasi dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Permasalahan gagal ginjal semakin rumit dengan ketidakmerataan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, meskipun prevalensi CKD sangat tinggi, akses kepada dialisis dan transplantasi ginjal hampir tidak ada.
Sebaliknya, negara-negara kaya meski memiliki prevalensi CKD yang lebih rendah, justru lebih banyak memiliki pasien yang mendapatkan terapi pengganti ginjal. Ketidakadilan ini berkontribusi pada angka kematian yang jauh lebih tinggi di negara-negara dengan sumber daya terbatas.
IHME juga mengamati bahwa kerusakan ginjal berdampak pada kesehatan yang lebih luas, di mana disfungsi ginjal berkontribusi terhadap 11,5% kematian akibat penyakit jantung di seluruh dunia. Ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan ginjal bagi keseluruhan kesehatan kardiovaskular.
Deteksi dini CKD diapresiasi sebagai prioritas oleh IHME, yang harus menjadi perhatian setiap negara. Meskipun pemeriksaan albuminuria dan pemantauan faktor risiko penting, banyak negara, termasuk yang berpenghasilan tinggi, masih minim dalam pelaksanaan program tersebut.
Peneliti berharap bahwa temuan ini dapat mendorong pemerintah untuk mengintegrasikan CKD lebih serius dalam kebijakan kesehatan publik, serta memperluas akses ke pengobatan yang efektif. Langkah ini dianggap krusial untuk memperlambat kerusakan ginjal dan mencegah komplikasi yang berkaitan dengan jantung.
Dengan meningkatnya kesadaran tentang CKD, diharapkan akan ada pengurangan angka kematian melalui langkah-langkah yang lebih komprehensif dan sistematis.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Menjadi Panduan Utama Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: