Waktunya Rileks: Kenali Tanda-tanda Butuh Digital Detox
Di era digital seperti sekarang, banyak orang merasa terjebak dalam dunia maya. Terkadang, kita perlu berhenti sejenak untuk menyegarkan pikiran dan jiwa.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia
Berlibur tidak selalu jadi solusi untuk mengatasi stres. Mungkin kita hanya butuh melakukan digital detox, bukan pergi ke tempat jauh dan mahal.
Jika sering merasa stres dan cemas, mungkin itu tanda perlu berhenti dari perangkat digital. Menurut penelitian, penggunaan gadget yang berlebihan bisa meningkatkan kecemasan.
Rasa 'FOMO' atau fear of missing out sering kali muncul akibat terus melihat update di media sosial. Hal ini kerap membuat pikiran tidak tenang.
Kondisi ini tergolong umum di kalangan pengguna aktif. Oleh karena itu, penting untuk mengenali kapan saatnya menjauh dari layar.
Gangguan tidur sering kali disebabkan oleh gadget. Paparan layar sebelum tidur dapat mempengaruhi kualitas tidur secara signifikan.
Ada studi yang menunjukkan penggunaan perangkat digital sebelum tidur dapat mengganggu ritme sirkadian. Akibatnya, seseorang menjadi tidak bisa tidur nyenyak dan merasa lelah saat bangun.
Jadi, jika sering terjaga di malam hari sambil scrolling media sosial, itu mungkin tanda tubuh butuh waktu istirahat dari teknologi.
Baca juga: Kunto Aji : Tanggung Jawab Anggota DPR Harus Diterima Seutuhnya
Kesulitan untuk fokus di tempat kerja atau saat belajar bisa jadi dampak dari penggunaan digital yang berlebihan. Terus-menerus mengecek notifikasi atau email dapat mengalihkan fokus secara signifikan.
Penelitian menunjukkan bahwa multitasking akibat gadget sebenarnya malah menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, memberikan diri jeda dari gadget bisa meningkatkan konsentrasi.
Terkadang, solusi sederhana seperti membaca buku bisa jauh lebih efektif daripada terus menerus terhubung dengan perangkat digital.
Jika merasa isolasi meski selalu terhubung secara digital, saatnya introspeksi. Media sosial tidak bisa menggantikan pertemuan langsung yang memberikan dampak emosional lebih kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: