Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM) baru saja menghadapi situasi sulit setelah bandingnya ditolak oleh FIFA. Timnas Malaysia kini terancam pencoretan dari Kualifikasi Piala Asia 2027 menyusul terungkapnya skandal pemalsuan dokumen oleh tujuh pemain.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Tembakan Gas Air Mata dan Provokasi di Depan Kampus
Kejadian ini mengungkap fakta bahwa sejumlah pemain mengklaim memiliki nenek atau kakek berdarah Malaysia, padahal sebenarnya asal keluarga mereka berasal dari negara-negara lain.
Pada akhir September, FIFA menghukum FAM terkait pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain yang menyatakan memiliki keturunan Malaysia. Investigasi FIFA menemukan bahwa asal-usul nenek atau kakek mereka berasal dari negara-negara seperti Spanyol, Brasil, dan Argentina.
Sebagai konsekuensi dari tindakan ini, FIFA menjatuhkan denda sebesar 350 ribu Swiss Franc atau setara dengan Rp 7,3 miliar kepada FAM. Selain itu, tujuh pemain yang terlibat juga dilarang berkiprah selama 12 bulan.
Keputusan ini tentu saja menambah beban bagi FAM dan memperburuk kondisi kepercayaan publik terhadap organisasi tersebut.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Lima: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Setelah FIFA menolak banding pada 3 November, hukuman yang dijatuhkan tetap berlaku dan bisa mengancam posisi Malaysia di Kualifikasi Piala Asia 2027. Saat ini, Malaysia berada di Grup F dan meraih 12 poin dari empat laga.
Meski berada dalam posisi yang cukup baik, dua laga tersisa bisa berisiko mengubah situasi, terutama jika pengurangan poin terjadi. Hal ini terungkap setelah diketahui bahwa dua pemain yang terlibat dalam skandal masih dibutuhkan dalam tim.
Kekhawatiran semakin meningkat karena setiap hasil positif yang diraih tim bisa terpengaruh oleh masalah ini, memicu ketidakpastian bagi para pendukung dan pemain.
Sekjen AFC, Windsor John, menjelaskan bahwa tindakan lebih lanjut akan diambil setelah semua dokumentasi dari FIFA diterima. Ia menegaskan bahwa pencoretan tim dari turnamen adalah langkah terakhir yang mungkin diambil.
"Hukuman terberat yang dapat kami berikan adalah mencoret tim dari turnamen, seperti yang terjadi dengan Timor-Leste," ujar Windsor John, menggarisbawahi keseriusan situasi ini.
Meski ada ancaman, Windsor juga mencatat bahwa rekam jejak FAM relatif bersih dari kasus penipuan usia, pelanggaran gender, atau doping. Ini bisa menjadi faktor yang meringankan bagi mereka saat mempertahankan keberlanjutan di kancah internasional.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille: Peluang Baru untuk Talenta Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: