Kenangan Megawati: Penolakan Pemakaman Bung Karno di Taman Makam Pahlawan
Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, mengenang momen sulit saat keluarga memohon agar ayahnya, Soekarno, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan setelah wafat pada tahun 1970.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online
Saat sebuah seminar internasional di Blitar, Megawati mengungkapkan bahwa permohonan tersebut ditolak oleh pemerintah Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto.
Megawati Soekarnoputri menceritakan bahwa keluarga sempat mengajukan permohonan formal untuk menguburkan Bung Karno di Taman Makam Pahlawan. Namun, Presiden Soeharto menolak permohonan tersebut karena kebijakan yang ketat terhadap warisan Orde Lama.
“Hanya untuk dimakamkan saja susahnya bukan main. Makanya kenapa beliau tidak seperti biasanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tapi beliau dimakamkan di sini,” ungkap Megawati, menyoroti kesulitan yang dihadapi keluarganya dalam proses tersebut.
Baca juga: Drama Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dan Pergerakan Tim Lain
Lokasi makam Bung Karno di Blitar dulunya adalah taman pahlawan bagi pra-jurit Pembela Tanah Air (PETA) yang gugur, beralih fungsi menjadi makam proklamator bangsa. Megawati menjelaskan makna historis lokasi tersebut.
“Di sini, supaya sejawat saya yang dari luar negeri tahu, ini sebetulnya dulu taman pahlawan dari banyak prajurit kami,” imbuh Megawati, menekankan pentingnya tempat tersebut dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Megawati, yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, menekankan bahwa tindakan Soeharto menolak permintaan pemakaman di TMP menjadi simbol perjuangan bagi keluarganya. Meski mengalami penolakan, ia merasa bangga melihat makam Bung Karno berkembang menjadi tempat bersejarah yang banyak dikunjungi.
“Alhamdulillah, tempat ini sekarang menjadi sangat populer. Banyak orang datang ke sini, dan ini pun sekarang jadi aneh, taman makam pahlawan juga bukan, tapi lebih dikenal dengan makam proklamator bangsa, Bung Karno,” jelas Megawati, mencerminkan bagaimana masyarakat menghargai warisan sejarah tersebut.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: