Aksi Mogok Siswa SMAN 1 Cimarga Setelah Penamparan oleh Kepala Sekolah
Peristiwa penamparan yang melibatkan Kepala SMAN 1 Cimarga, Dini Fitria, memicu aksi mogok besar-besaran dari siswa. Sejak 13 Oktober 2025, sebanyak 630 siswa tidak hadir di sekolah sebagai bentuk protes atas tindakan yang dianggap brutal tersebut.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kasus ini bermula dari teguran Dini terhadap siswa yang kedapatan merokok, yang berujung pada penonaktifan dirinya oleh pemerintah provinsi. Insiden ini menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial, terutama setelah viralnya spanduk berisi tuntutan siswa.
Ratusan siswa di SMAN 1 Cimarga memilih untuk mogok sekolah sebagai reaksi terhadap tindakan Dini Fitria, yang diduga menampar seorang siswa di depan kelas. Aksi ini diikuti oleh sekitar 630 siswa sejak 13 Oktober 2025.
Dini Fitria, saat diwawancara, menyatakan, 'Semuanya sekitar 630 murid. Kami sudah koordinasi dengan wakasek agar kegiatan belajar mengajar tetap kondusif, tetapi ternyata anak-anak punya cerita sendiri.' Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan di sekolah tersebut lebih komplek daripada yang terlihat.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Insiden tersebut terjadi pada 10 Oktober 2025 ketika Dini menegur seorang siswa bernama Tri Indah Alesti yang merokok. Dalam penjelasannya, Dini mengungkapkan, 'Saya kecewa bukan karena dia merokok, melainkan karena tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi.'
Setelah insiden itu, orangtua siswa melaporkan Dini ke polisi. Kini, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Lebak sedang melakukan penyelidikan terkait kasus ini.
Pada 14 Oktober 2025, pemerintah provinsi melalui Kantor Cabang Dinas Pendidikan Lebak menonaktifkan Dini Fitria dari jabatannya. Kepala KCD Pendidikan Lebak, Gugun Nugraha, mengonfirmasi keputusan ini, menjelaskan, 'Iya, karena siswa tersebut merokok tetapi tidak mengaku. Pengakuannya tidak keras, tapi memang ada bahasa dari kepala sekolah yang tidak pantas.'
Gugun juga mengimbau agar para siswa kembali ke sekolah dan semua tenaga pendidik menjaga profesionalisme untuk mencegah kejadian serupa terulang. Dewan pendidikan berharap agar situasi ini bisa diselesaikan dengan baik untuk semua pihak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: