Hujan Meteor Draconid: Pertunjukan Langit Malam yang Mengagumkan
Setiap awal Oktober, langit malam di belahan utara Bumi menyajikan fenomena luar biasa berupa hujan meteor Draconid, yang puncaknya diprediksi akan terjadi pada 8 Oktober 2025.
Baca juga: Menggali Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari
Dengan jejak debu dari komet 21P/Giacobini-Zinner, pengamatan hujan meteor ini dapat dilakukan tanpa alat bantu seperti teleskop.
Hujan meteor Draconid dinamakan berdasarkan rasi bintang Draco, yang dalam bahasa Latin berarti 'naga'. Momen ini memberikan kesan seolah meteor berasal dari mulut naga yang ada di langit utara.
Berbeda dengan banyak hujan meteor lainnya yang biasanya terlihat menjelang fajar, Draconid paling baik diamati pada awal malam setelah senja, ketika rasi Draco berada tinggi di cakrawala utara.
Fenomena ini dikenal dengan aktivitas yang tidak menentu; tahun-tahun biasa hanya sedikit meteor yang muncul. Namun, dalam beberapa kesempatan, Draconid dapat melepaskan ribuan meteor dalam waktu singkat.
Sejarah mencatat momen yang sangat signifikan terjadi pada tahun 1933 dan 1946, di mana ribuan meteor tampak jatuh setiap jam akibat ledakan aktivitas yang luar biasa.
Untuk tahun ini, puncak aktivitas hujan meteor Draconid diprediksi terjadi pada pukul 19.00 UTC, 8 Oktober 2025, atau sekitar pukul 02.00 WIB 9 Oktober 2025.
Baca juga: Liburan Sendirian di Kota-Kota Terbaik Indonesia
Periode aktif fenomena ini berlangsung dari 6 hingga 10 Oktober 2025, dengan waktu terbaik untuk mengamati adalah setelah gelap pada malam 8 Oktober, dari pukul 19.00 hingga 22.00 waktu setempat.
Namun, potensi pengamatan dapat terhambat oleh cahaya bulan purnama yang mungkin memudarkan kilatan meteor. Oleh karena itu, disarankan untuk memilih lokasi dengan langit gelap dan minim polusi cahaya.
Dalam kondisi ideal, pengamat yang tidak terhalang cahaya bulan bisa menyaksikan hingga 10 meteor Draconid per jam, meskipun angka ini bisa bervariasi tergantung pada kondisi atmosfer.
Pengamatan hujan meteor Draconid sangatlah mudah dan tidak memerlukan teleskop atau alat khusus lainnya; yang dibutuhkan hanya kesabaran dan lokasi yang tepat dengan langit malam yang gelap.
Saat pengamatan, penting untuk mematikan lampu sekitar dan memberi waktu pada mata untuk beradaptasi dengan kegelapan selama 15-20 menit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: