Dugaan Kebocoran Data Anggota Polri Oleh Peretas Bjorka
Polda Metro Jaya sedang menyelidiki dugaan kebocoran data pribadi ratusan ribu anggota Polri yang diklaim dilakukan oleh peretas bernama Bjorka. Informasi ini terungkap setelah ahli keamanan siber, Teguh Aprianto, membagikan detail kebocoran tersebut melalui media sosial.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kecelakaan Maut Ojol
Menurut Teguh, Bjorka mengklaim telah membocorkan data yang mencakup informasi pribadi 341.000 anggota Polri, termasuk nama, pangkat, satuan tugas, nomor telepon, dan alamat surel. File data awal berukuran 9 MB dan meningkat menjadi 40 MB setelah diekstrak, dengan total entri mencapai 341.800.
Kasus kebocoran data ini mencuat setelah Teguh Aprianto mempublikasikan informasi mengenai kebocoran tersebut di media sosial. Dalam unggahannya, ia menjelaskan bahwa data yang dibocorkan mencakup rincian lengkap anggota Polri.
Diketahui, file yang bocor berukuran cukup besar dengan rincian data memenuhi berbagai informasi penting seputar anggota kepolisian. Hal ini meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan data pribadi di kalangan institusi pemerintah.
Kebocoran ini juga menyoroti pentingnya perlindungan data dan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mencegah aksi serupa di masa depan.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Anggota Mulai 2025, Ini Tuntutan Masyarakat
Kasubdit Penmas Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak, menyatakan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan cek dan verifikasi terkait dugaan kebocoran tersebut. Ia mengungkapkan, "Saya baru dengar. Saya cek dahulu".
Reonald menekankan bahwa pihaknya membutuhkan waktu untuk memverifikasi data yang diklaim telah bocor, dan penyelidikan lebih lanjut sedang dilakukan oleh unit yang berwenang.
Pihak kepolisian berusaha menegaskan kembali pentingnya keselamatan data, terutama dalam lingkungan instansi pemerintah, untuk mencegah terulangnya kasus seperti ini.
Dalam unggahannya, Bjorka mengklaim bahwa tindakan kebocoran data ini merupakan respons terhadap penangkapan yang ia anggap tidak berdasar oleh aparat kepolisian. Ia menyatakan, "Since the police in Indonesia allege that they have arrested me, I have decided to disclose this data as a surprise for them."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa tindakan Bjorka bukan hanya sebatas kebocoran data, tetapi juga aksi protes terhadap kebijakan kepolisian yang dianggapnya merugikan.
Kepolisian menyatakan komitmen untuk menyelidiki insiden ini sepenuhnya dan memastikan bahwa data dan informasi penting tetap aman dari ancaman peretasan.
Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor, WFH Dicatat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: