Fenomena Quiet Firing di Dunia Kerja: Dampak dan Pertimbangan Etis
Fenomena 'quiet firing' telah muncul sebagai praktik baru dalam dunia kerja, di mana perusahaan secara perlahan mengurangi keterlibatan karyawan tanpa melakukan pemecatan resmi.
Baca juga: Desta Bagikan Tuntutan 17+8 Usai Hujatan Pemilu 2024
Praktik ini menimbulkan berbagai dampak psikologis yang signifikan bagi karyawan serta pertanyaan mengenai etika dan tanggung jawab perusahaan.
Quiet firing merupakan istilah yang merujuk pada praktik perusahaan untuk mengurangi tanggung jawab atau eksposur karyawan secara bertahap. Hal ini biasanya terjadi tanpa pemberitahuan resmi atau dialog terbuka antara manajemen dan karyawan.
Ciri-ciri dari fenomena ini antara lain menurunnya komunikasi antara atasan dan bawahan, berkurangnya proyek atau tugas penting, serta pemotongan akses terhadap sumber daya yang biasanya digunakan karyawan. Dalam banyak kasus, karyawan mungkin mulai merasa diabaikan dan terpinggirkan di tempat kerja.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Tembakan Gas Air Mata dan Provokasi di Depan Kampus
Dari segi psikologis, karyawan yang mengalami quiet firing biasanya merasa tertekan, cemas, dan tidak memiliki kepastian tentang masa depan karier mereka. Situasi ini adalah hasil dari lingkungan kerja yang tidak mendukung dan komunikasi yang cegah.
Menurut sebuah studi, 55% orang yang terkena dampak menyatakan bahwa mereka merasa kurang dihargai, sementara 40% merasa tidak ada lagi tujuan dalam pekerjaan mereka. Dampak negatif ini tidak hanya memengaruhi produktivitas individu, tetapi juga dapat memengaruhi tim secara keseluruhan.
Praktik quiet firing menimbulkan perdebatan tentang etika perusahaan dalam memperlakukan karyawan. Banyak yang berargumen bahwa perusahaan harus memiliki tanggung jawab untuk memberikan umpan balik yang konstruktif dan menghindari situasi yang dapat mengakibatkan ketidakpuasan di kalangan karyawan.
Para ahli menyebutkan bahwa transparansi dan komunikasi yang jelas tentang kinerja karyawan seharusnya menjadi prioritas bagi manajemen, untuk menghindari situasi tidak menyenangkan ini. Mengadopsi pendekatan yang lebih terbuka terhadap komunikasi dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.
Baca juga: Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Selama Hampir 7 Jam Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: