Imposter Syndrome: Fenomena Psikologis yang Mengancam Perkembangan Karier di Indonesia
Imposter syndrome adalah fenomena psikologis yang menyebabkan individu merasa tidak layak meskipun menunjukkan prestasi yang signifikan.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Di Indonesia, kesadaran akan imposter syndrome semakin meningkat, terutama di kalangan pekerja muda, dan dapat menghambat perkembangan karier serta kesejahteraan mental individu.
Imposter syndrome, atau sindrom impostor, adalah kondisi di mana individu merasa meragukan kemampuan diri mereka dan percaya bahwa mereka tidak pantas mendapatkan kesuksesan yang telah diraih.
Meskipun dapat menunjukkan prestasi yang mengesankan, banyak dari individu ini yang merasa seperti penipu.
Gejala dari imposter syndrome dapat bervariasi, tetapi sering kali meliputi perasaan kecemasan, rasa bersalah, dan ketidakpuasan yang berkepanjangan.
Sebuah studi menunjukkan bahwa hampir 70% orang mengalami imposter syndrome pada satu titik dalam hidup mereka, menunjukkan bahwa fenomena ini sangat umum dan dapat mempengaruhi siapa saja.
Imposter syndrome dapat berpengaruh signifikan terhadap perkembangan karier seseorang, sering kali menghalangi individu dalam mengambil kesempatan untuk promosi atau pengembangan diri.
Baca juga: Menggali Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari
Menurut psikolog, individu dengan imposter syndrome sering merasa terjebak dalam siklus perasaan tidak layak, yang dapat mengarah pada stres yang berkepanjangan.
Ketidakstabilan emosional ini dapat mengganggu produktivitas dan kepuasan kerja individu dan menghamparkan dampak negatif pada performa kerja.
Selain itu, imbas dari imposter syndrome juga dapat muncul dalam bentuk hubungan yang terhambat dengan rekan kerja dan atasan, mengurangi kepercayaan dari orang lain.
Menyadari adanya perasaan imposter adalah langkah pertama untuk mengatasinya, individu perlu mengenali bahwa mereka tidak sendirian dalam merasakan hal ini.
Strategi lain yang efektif adalah berbagi pengalaman dengan rekan kerja maupun mentor; diskusi terbuka mengenai ketidakpastian dapat mengurangi beban emosional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: