Fenomena Ghosting dalam Dunia Kerja: Dampak dan Solusi
Fenomena ghosting, yang umumnya terjadi dalam hubungan percintaan, kini merambah ke dunia kerja dan menciptakan ketidakpastian bagi banyak pihak.
Baca juga: Status Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan
Baik pencari kerja maupun perusahaan terlibat dalam praktik ini, menimbulkan berbagai kekhawatiran dan kebingungan.
Ghosting adalah istilah yang berasal dari budaya populer dan mengacu pada tindakan menghilang tanpa penjelasan, sering kali dalam konteks hubungan interpersonal.
Dalam lingkungan kerja, fenomena ini muncul ketika kandidat tidak menanggapi tawaran pekerjaan atau ketika perusahaan tidak memberikan kabar setelah wawancara.
Fenomena ini mengakibatkan ketidakpastian bagi kedua belah pihak. Kandidat merasa diabaikan ketika tidak mendapat umpan balik mengenai status aplikasi mereka, sementara perusahaan merasa frustrasi karena tak mengetahui keputusan kandidat.
Di Indonesia, praktik ghosting ini diakibatkan oleh perubahan dalam dinamika pasar kerja, di mana tuntutan akan kualitas kandidat yang tinggi menimbulkan tantangan baru bagi perusahaan.
Dampak ghosting dalam dunia kerja terasa oleh kedua belah pihak. Bagi kandidat, tidak mendapatkan respon dari perusahaan dapat menurunkan kepercayaan diri dan meningkatkan kecemasan.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online
Kandidat sering kali merasa bahwa usaha yang mereka lakukan dalam proses melamar menjadi sia-sia. Di sisi lainnya, perusahaan yang melakukan ghosting terhadap kandidat dapat merusak reputasi dan citra mereka di mata calon pelamar.
Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya minat dari calon pekerja berkualitas yang merasa bahwa waktu dan usaha mereka tidak dihargai.
Munculnya ghosting ini juga mencerminkan masalah yang lebih besar dalam komunikasi dan hubungan kerja, dengan banyak perusahaan yang tidak memiliki mekanisme baik untuk memberikan umpan balik.
Untuk mengurangi praktik ghosting, perusahaan perlu membangun komunikasi yang lebih baik dengan pelamar. Penting untuk menetapkan standar dalam memberikan umpan balik kepada kandidat, meskipun mereka tidak mendapatkan posisi yang diinginkan.
Kandidat diharapkan juga dapat memberikan informasi yang jelas mengenai keputusan mereka setelah menerima tawaran, guna menciptakan kejelasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: