BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Minggu, 20 JULI 2025 • 03:00 WIB

Fenomena Quiet Quitting: Kesehatan Mental dan Lingkungan Kerja

youngthink.id – Dalam beberapa tahun terakhir, ‘quiet quitting’ telah menjadi perbincangan hangat di kalangan pekerja di berbagai sektor. Konsep ini mencerminkan pergeseran sikap terhadap pekerjaan dan pentingnya menjaga kesehatan mental di tempat kerja.

Dengan tekanan yang kian meningkat, banyak orang mulai menyadari pentingnya menyeimbangkan antara tanggung jawab profesional dan kebutuhan mental. Tahun 2025 menjadi momen untuk menggali lebih dalam tentang fenomena ini serta dampaknya terhadap kesehatan mental karyawan.

Apa Itu Quiet Quitting?

‘Quiet quitting’ mengacu pada kondisi di mana karyawan memilih untuk tidak melakukan lebih dari kewajiban dasar mereka di tempat kerja. Fenomena ini biasanya muncul akibat tekanan berlebih dan kelelahan mental yang dialami pekerja.

Banyak individu merasa terjebak dalam rutinitas yang tidak memuaskan dan memilih untuk memberikan kontribusi sesuai batasan tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka. Dengan demikian, mereka berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Terutama generasi muda mulai mengapresiasi kesehatan mental dan lebih memilih untuk tidak terjebak dalam tuntutan pekerjaan yang menguras. Mereka menyadari bahwa menjaga kesehatan mental adalah prioritas, berbanding lurus dengan produktivitas.

Dampak Terhadap Kesehatan Mental

Mengabaikan kesehatan mental dapat mengakibatkan penurunan produktivitas dan kepuasan kerja di kalangan pekerja. Karyawan yang melakukan ‘quiet quitting’ biasanya merasa lebih tenang, meskipun bisa jadi mereka tidak menerima promosi atau pengakuan yang diidamkan.

Di lain pihak, karyawan yang berkomitmen penuh tanpa memperhatikan batasan diri berisiko mengalami stres, kecemasan, bahkan burnout. “Kesehatan mental bukan hanya isu individu, tetapi juga berdampak pada seluruh organisasi,” jelas seorang psikolog kerja.

Perusahaan sebaiknya memahami bahwa kesehatan mental karyawan berhubungan langsung dengan performa tim. Ketika kesehatan mental karyawan terjaga, mereka dapat memberikan kontribusi positif terhadap pekerjaan mereka.

Mendukung Quiet Quitting di Tempat Kerja

Perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kebugaran mental karyawan dengan menerapkan kebijakan yang lebih fleksibel. Di antaranya adalah jam kerja yang lebih fleksibel, tunjangan kesehatan mental, serta program dukungan psikologis.

Keterlibatan manajemen dalam mendengarkan keluhan karyawan dan menciptakan ruang aman untuk berdiskusi tentang kesehatan mental akan memperkuat kepercayaan dan loyalitas. “Buatlah budaya perusahaan yang mendukung keseimbangan kerja dan hidup,” ungkap seorang konsultan HR.

Keinginan semua orang untuk bekerja dengan baik harus disertai dengan kesadaran untuk memperhatikan batasan guna menghindari dampak negatif bagi kesehatan mental masing-masing.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Fenomena Quiet Quitting: Kesehatan Mental dan Lingkungan Kerja

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!