Kamis, 26 FEBRUARI 2026 • 23:55 WIB

Fenomena Kelelahan di Tengah Tradisi Bukber di Bulan Ramadan

Author

Fenomena Kelelahan di Tengah Tradisi Bukber di Bulan Ramadan

Buka puasa bersama, atau yang lebih dikenal dengan istilah bukber, menjadi salah satu tradisi yang populer di bulan Ramadan. Namun, terkadang kegiatan ini bisa lebih melelahkan daripada menyenangkan.

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Siap Tantang Alcaraz

Fenomena ini yang disebut sebagai 'Sunday Bukber Syndrome' menggambarkan bagaimana jadwal bukber yang padat dapat menguras energi dan waktu, menjadikan momen yang seharusnya hangat ini terasa lebih seperti beban.

Tekanan Sosial dan Harapan Tinggi

Tradisi bukber biasanya dihargai sebagai kesempatan untuk berkumpul dengan teman dan keluarga. Namun, tekanan sosial seringkali menambah beban, membuat individu merasa harus hadir di setiap undangan.

Harapan untuk tampil sempurna, baik dalam hal penampilan maupun lokasi pertemuan, menciptakan rasa cemas. Banyak orang berlomba-lomba untuk menghadiri sebanyak mungkin acara dalam satu hari, tanpa mempertimbangkan waktu untuk diri sendiri.

Baca juga: Kerusuhan di Tamansari: Protes Berujung Kekacauan di Sekitar Kampus

Jadwal Bukber yang Padat

Dalam satu akhir pekan, individu seringkali diundang ke beberapa tempat berbeda untuk berbuka puasa. Jika perencanaan tidak matang, perpindahan antara lokasi bisa menjadi sangat mepet dan membuang waktu.

Padatnya jadwal ini menghalangi individu untuk menikmati makanan dengan santai atau berbincang secara mendalam dengan teman. Ketidaknyamanan ini dapat berujung pada kelelahan fisik dan mental yang tidak terhindarkan.

Dampak Psikologis dari Kelelahan

Kelelahan yang dihasilkan dari banyaknya undangan dapat menyebabkan perasaan keletihan yang tidak hanya fisik tetapi juga emosional. Momen yang seharusnya menyenangkan justru berubah menjadi sumber tekanan.

Sebagian orang mulai merasa cemas mengenai acara bukber yang akan datang, sehingga mengganggu suasana hati dan mengurangi kenikmatan bulan Ramadan. Ketidakmampuan untuk menikmati waktu berkumpul yang berharga bisa menyebabkan kehilangan kualitas interaksi sosial.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU