Jumat, 27 FEBRUARI 2026 • 15:20 WIB

Dampak Puasa Terhadap Metabolisme dan Kesehatan Tubuh

Author

Dampak Puasa Terhadap Metabolisme dan Kesehatan Tubuh

Puasa merupakan praktik yang diikuti oleh banyak orang, terutama selama bulan Ramadan, yang mempengaruhi berbagai aspek fisiologis tubuh, termasuk metabolisme. Proses ini memberikan dampak signifikan pada adaptasi tubuh dalam penggunaan energi dan fungsi organ.

Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online

Memahami mekanisme ini sangat penting untuk memberikan wawasan tentang kesehatan dan kesejahteraan, khususnya dalam konteks bagaimana tubuh merespons keadaan puasa secara efektif.

Metabolisme Energi Selama Puasa

Saat berpuasa, tubuh mulai mengandalkan cadangan energi yang tersimpan dalam bentuk glikogen, dengan proses ini berlangsung antara 24 hingga 48 jam tergantung pada durasi puasa. Setelah cadangan glikogen habis, tubuh beralih pada lemak sebagai sumber energi utama melalui proses yang dikenal sebagai lipolisis.

Lipolisis menghasilkan keton, yang menjadi sumber energi bagi sel-sel otak. Di sisi lain, metabolisme tubuh mengalami penurunan akibat pengurangan kebutuhan energi, yang menjadikan proses ini lebih efisien dalam penggunaan kalori.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan

Adaptasi Fisiologis Selama Puasa

Dalam keadaan puasa, tubuh melakukan berbagai adaptasi fisiologis, termasuk peningkatan kadar hormon pertumbuhan yang penting untuk pemeliharaan massa otot. Selain itu, kadar insulin dalam darah juga mengalami penurunan, yang mendukung proses pembakaran lemak.

Penurunan kadar insulin ini juga berkontribusi terhadap meningkatnya sensitivitas tubuh terhadap hormon ini setelah masa puasa berakhir. Penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan proses pembaruan sel dan memperbaiki kerusakan DNA, yang berkontribusi pada kesehatan jangka panjang.

Efek Puasa pada Kesehatan Mental dan Fisik

Puasa tidak hanya mempengaruhi aspek fisik tubuh, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Beberapa studi mengungkapkan bahwa puasa dapat meningkatkan fokus serta konsentrasi individu, yang sering kali dihubungkan dengan kondisi metabolisme yang lebih efisien.

Selama fase puasa, hormon serotonin yang dilepaskan dapat berkontribusi pada peningkatan suasana hati dan pengurangan tingkat stres. Namun, perlu dicatat bahwa respons individu terhadap puasa dapat berbeda-beda, dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk usia, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Baca juga: Presiden Prabowo Berikan Penghargaan bagi Polisi Terluka dalam Aksi Demonstrasi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author

Ajeng

Editor
TERPOPULER
BERITA TERBARU