Di era digital saat ini, scrolling di media sosial sudah menjadi aktivitas sehari-hari bagi banyak orang yang sulit untuk dihentikan.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Anggota Mulai 2025, Ini Tuntutan Masyarakat
Kemudahan akses informasi dan hiburan melalui ponsel menjadi salah satu faktor utama mengapa kita terjebak dalam rutinitas ini.
Daya Tarik Media Sosial
Media sosial dirancang dengan algoritma yang cermat untuk menarik perhatian penggunanya. Setiap konten yang muncul di beranda disesuaikan, membuat pengguna terus ingin mencari lebih banyak.
Ketika melihat konten yang disukai, otak melepaskan dopamin yang memberikan rasa senang. 'Rasa senang' ini mendorong kita untuk terus menggulir, berharap menemukan lebih banyak konten yang memuaskan.
Sehingga, tidak mengherankan jika scrolling seringkali terasa seperti 'permainan' yang mengasyikkan. Setiap guliran dapat menyuguhkan gambar atau kisah baru yang menarik untuk dinikmati.
Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan
Faktor Psikologis
Ketertarikan terhadap konten digital kerap berasal dari kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain. 'Social Connection' menjadi fundamental dan scrolling menjadi salah satu cara untuk merasa dekat.
Namun, scrolling dapat menyisakan perasaan campur aduk, seperti kecemasan dan depresi. Hal ini umumnya terjadi ketika kita membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih bahagia di media sosial.
Dr. David Lewis, seorang psikolog, menyatakan, 'Kita seringkali tidak menyadari seberapa banyak kita tergantung pada media sosial untuk mendapatkan validasi.' Ini memberikan gambaran jelas mengenai ketergantungan dalam konteks scrolling yang terus-menerus.
Dampak Sosial
Tekanan sosial juga ikut memengaruhi kebiasaan scrolling yang tiada henti. Ketika melihat teman atau orang lain membagikan momen berharga mereka, dorongan untuk tetap terhubung dan aktif di media sosial muncul.
'FOMO' atau Fear of Missing Out telah menjadi istilah yang umum di kalangan pengguna media sosial. Perasaan ini membuat banyak orang terus menggulir agar tidak ketinggalan tren atau berita terkini.
Seiring berjalannya waktu, ketergantungan ini dapat mengurangi interaksi sosial di dunia nyata. Banyak individu lebih memilih menghabiskan waktu di dunia maya dibandingkan bertemu dengan teman secara langsung.
Baca juga: Mengapa Finfluencer Menjadi Panduan Utama Keuangan di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: