“Less is more” jadi mantra baru anak muda. Bukan sekadar soal barang, tapi tentang cara hidup. Banyak orang merasa hidupnya terlalu penuh — bukan cuma barang fisik, tapi ekspektasi, jadwal, bahkan notifikasi.
Konsep ini bikin kita fokus hanya pada hal penting. Misalnya, pilih barang yang benar-benar dipakai, pilih aktivitas yang bikin bahagia, dan pilih orang yang benar-benar bikin hidup lebih sehat. Sisanya, dilepas.
Dengan mengurangi hal-hal yang nggak perlu, ruang mental ikut lega. Kita jadi lebih fokus, nggak mudah stres, dan ngerasa lebih punya kontrol hidup. Otak manusia emang bekerja lebih baik di ruang yang tidak berantakan.
Less is more juga bikin keputusan lebih cepat. Nggak perlu mikir lama mau pakai baju apa, mau beli apa, atau harus ikutan aktivitas apa. Decision fatigue berkurang drastis.
Banyak anak muda yang merasa konsep ini bantu mereka keluar dari pola compulsive shopping. Karena mereka belajar bedain: kebutuhan atau keinginan? Berguna atau cuma ikut tren?
Tapi gaya hidup ini bukan berarti anti barang atau anti kegiatan. Justru intinya adalah: memilih secara sadar. Yang bikin hidup lebih ringan, bukan lebih kaku.
Less is more bukan sekadar trend. Buat banyak orang, ini jadi cara hidup baru yang bikin mental lebih stabil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: