Selasa, 25 NOVEMBER 2025 • 14:44 WIB

Warisan Budaya Suku Tengger di Lereng Gunung Bromo

Author

Warisan Budaya Suku Tengger di Lereng Gunung Bromo

Suku Tengger, penghuni lereng Gunung Bromo, dikenal dengan warisan budaya yang kaya dan unik, mencerminkan akar sejarah Majapahit yang kuat dan bertahan hingga kini.

Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Terkait Kecelakaan Maut Ojol

Dengan tradisi serta ritual khas yang masih dilestarikan, mereka menjadi objek penelitian dan daya tarik pariwisata, menunjukkan dedikasi dalam mempertahankan identitas budaya mereka.

Asal Usul Suku Tengger

Penelusuran sejarah suku Tengger dapat dikaitkan dengan keruntuhan kerajaan Majapahit yang berkuasa antara abad ke-13 hingga abad ke-16. Menurut narasi yang berkembang, mereka merupakan keturunan prajurit dan bangsawan yang melarikan diri ke daerah pegunungan.

Nama 'Tengger' berasal dari nama Brawijaya V, yang merupakan raja yang gagal melarikan diri. Saat ini, komunitas ini hidup di Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang, dengan populasi mencapai ribuan jiwa.

Masyarakat Tengger masih mempertahankan adat dan tradisi yang mengandung unsur-unsur Hindu dan Buddha. Hal ini menjadi indikator kuat akan kecintaan mereka terhadap warisan budaya meskipun mayoritas penduduk di Indonesia menganut agama Islam.

Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Perjuangan Masyarakat

Budaya dan Tradisi Suku Tengger

Budaya Suku Tengger sangat dipengaruhi oleh tradisi Hindu, yang tercermin dalam ritual tahunan Yadnya Kasada. Upacara ini merupakan penghormatan kepada Sang Hyang Widhi dan dilakukan di puncak Gunung Bromo untuk menarik berkah dari nenek moyang.

Seni dan kerajinan yang dimiliki oleh masyarakat Tengger juga mencerminkan identitas unik mereka. Ini termasuk seni musik, tarian, dan kerajinan tangan, yang tidak hanya berperan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga menarik minat wisatawan.

Bahasa Tengger, yang menggabungkan unsur lokal dan bahasa Jawa klasik, menjadi salah satu aspek penting dalam budaya mereka, memberikan wawasan linguistik terkait interaksi sosial selama berabad-abad.

Menghadapi Tantangan dan Melestarikan Warisan

Di tengah modernisasi dan pengaruh globalisasi, Suku Tengger menghadapi tantangan dalam melestarikan budaya mereka. Fenomena urbanisasi mendorong beberapa generasi muda menjauh dari tradisi yang sudah ada.

Ada upaya dari pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk mendukung masyarakat Tengger dalam menjaga warisan budaya mereka. Program pendidikan dan pariwisata berkelanjutan menjadi fokus, untuk mendorong generasi muda memahami dan mencintai budaya mereka.

Meski tantangan besar menghadang, komitmen masyarakat Tengger untuk menjaga identitas budaya tetap kuat. Suku Tengger adalah contoh komunitas yang bisa bertahan menghadapi modernitas tanpa kehilangan akar budaya mereka.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author

Aby

Editor
TERPOPULER
BERITA TERBARU